Jangan Memperalat Mahasiswa di Jawa Barat !

Oleh : M. Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Kebangsaan) MediaBantenCyber.co.id (MBC) Bandung, HUT Mega Bintang yang diadakan di Solo tanggal 11 Juni 2023 dengan menghadirkan tokoh-tokoh untuk membahas tema “Rakyat Bertanya Kapan People Power?” semestinya selesai dengan selesainya acara tersebut. Akan tetapi ternyata tidak. Baru baru ini ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi Pancasila konon telah melaporkan para pembicara dalam acara tersebut ke Kepolisian Daerah Jawa Barat.______________Baca Juga : Yang Memperalat Covid-19 Akan Dimakan Oleh Perbuatannya Sendiri

Yang dilaporkan katanya adalah Moedrick Sangidu, HM Amien Rais, M Rizal Fadillah, Syahganda Nainggolan, Eggy Sudjana, Muhammad Taufik, Syukri Fadholi, Deddy S Budiman dan Ahmad Khozinuddin. Kesembilan orang tersebut menjadi pembicara dalam acara Mega Bintang di Solo.

Terkesan “Laporan” tersebut mengada-ada karena di samping mengundang permasalahan hukum juga dapat menimbulkan implikasi politik yang lebih besar.

Baca Juga : Unjuk Rasa di Thailand Serta Myanmar Bentuk Penentangan Kepada Rezim Otoriter dan Oligarki | jangan memperalat

Berita yang beredar di medsos tidak menunjukkan kejelasan Laporan itu teregister di Kepolisian Daerah Jawa Barat. Benarkah telah diterima oleh pihak Kepolisian Daerah Jawa Barat? Kepolisian Daerah Jawa Barat biasanya mampu menjaga wibawa dan integritasnya.

Empat masalah hukum yang dapat dicatat atas hal ini, yaitu :

Pertama, siapa dan apa legal standing pelapor yang menamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi Pancasila tersebut. Apakah lembaga berbadan hukum, dibuat mendadak atau abal-abal? Bagi yang tinggal di Jawa Barat bertahun-tahun apalagi aktivis dipastikan belum pernah mendengar adanya Aliansi Mahasiswa seperti itu. Pancasila mana yang sedang mereka perjuangkan. Dahulu DN Aidit juga menyatakan dirinya “Membela Pantjasila”.

Baca Juga : “Si Sombong Akhirnya Ambruk Dalam Kebodohan Mulutnya Sendiri” | jangan memperalat

Kedua, peristiwa yang dilaporkan terjadinya itu adalah di Kota Solo Jawa Tengah bukan di Bandung atau daerah Jawa Barat lainnya. Nah adik-adik Mahasiswa, semestinya kalian itu melapor nya di Polres Solo atau Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Ini berdasarkan asas “locus delicti” dalam hukum pidana. Bukan perkara perdata yang bebas memilih tempat kedudukan Pengadilan berdasarkan tempat tinggal salah satu Tergugat.

Ketiga, people power itu sama dengan aksi unjuk rasa rakyat yang dijamin oleh hukum dan perundang-undangan. Konstitusional. Menyeru perbuatan yang konstitusional tidak melanggar hukum, apalagi makar. Minta Presiden mundur atau dimundurkan juga konstitusional, nak. Sebaiknya baru menjadi mahasiswa jangan bergaya penguasa. Ngeri masa depan bangsa ini jika mahasiswa sudah menjadi buzzer.

Keempat, ribut katanya sudah ada somasi agar kesembilan orang itu meminta maaf. Pertanyaannya kepada siapa harus minta maaf, kepada Presiden Jokowi? Lho, pak Jokowi nya juga seperti biasa kalem-kalem saja. Minta maaf ke Aliansi Mahasiswa Pro Dem Pancasila? Wuih hebat amat tuh anak. Lalu masih kecil kok sudah pinter bohong, kapan dan kepada siapa Somasi dilayangkan?

Kesembilan tokoh yang diadukan itu sebagian memiliki latar belakang akademik di bidang Hukum bahkan ada beberapa diantaranya adalah pengacara yang cukup dikenal. Karenanya membawa laporan ke pertarungan hukum mungkin hal yang memang sedang ditunggu oleh para Advokat tersebut. Ketahuilah bahwa ruang hukum adalah habitatnya.

Mungkinkah ruang politik melalui hukum yang sedang dimainkan? Nah implikasi politik yang terjadi dapat lebih buruk jika dilanjutkan. Apalagi dengan ancam-ancaman segala.
Kepada pihak-pihak yang berniat untuk mengacaukan Jawa Barat sebaiknya jangan mencoba untuk memperalat mahasiswa.

Sebenarnya masalah kekecewaan terhadap keadaan saat ini dan buruknya pengelolaan negara selama Pemerintahan Jokowi bukan hanya dirasakan oleh sembilan tokoh atau tokoh-tokoh lainnya, akan tetapi dirasakan oleh banyak rakyat Indonesia, bahkan mungkin rakyat terbanyak.

Tema Hari Mega Bintang di Solo “Rakyat Bertanya Kapan People Power?” akan tetap menjadi pertanyaan. Tapi dengan tindakan mempermainkan hukum atau mengambil langkah langkah yang represif, maka people power justru akan dijalankan oleh rakyat itu sendiri. People power dapat menjadi kenyataan bahkan keniscayaan.(BTL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Hello
Can we help you?
.