,

Kebudayaan Luhur Berbasis Cinta Kebersamaan Untuk Berkemajuan

oleh -2.011 views
Kebudayaan Luhur Berbasis Cinta Kebersamaan Untuk Berkemajuan

Oleh: Andi Irawan MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kabupaten Tangerang, Begitu luas dan tak bertepi ketika samudra hasrat hati mencoba untuk meresapi dan memaknai konsep terbangunnya cita-cita Kebangsaan Indonesia tercinta. Mimpi indah menjadi pribadi yang mampu mencintai sesama manusia sebagai warga bangsa yang lebih manusiawi, nampaknya tak seindah ucapan atau kampanye para elit dan tesis/desertasinya kaum intelektual. Itulah ide selayang pikir meronta dalam benak saya pagi ini, sambil bersiap untuk berangkat studi tepat hari sabtu tanggal 24 April 2021. Tak habis dan kerontang ketika menggali tokoh bangsa yang satu ini, penulis sangat terkesan bertemu di asrama Haji kota Padang Sumatera Barat dan Alhamdulillah sempat bersalaman dengan beliau sebagai pribadi yang bersahaja, kenangan bersama beliau terjadi di tahun 2013 ketika penulis mendapat tugas amanah menjadi Instruktur dalam mengelola perkaderan DPP IMM, saat itu beliau belum menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Menikmati pemikiran visionernya Prof Dr KH Haedar Nashir MSi (Video YouTube) ceramahnya dengan tema Elit Politik._____________Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Serang

Beliau menuturkan konsep mencintai Indonesia bahwa bangsa ini lahir dari kebersamaan melalui pergumulan proses dalam menemukan nama Indonesia yang terdokumentasikan sejarah awal ditandai bangkitnya kesadaran pemuda Nusantara pada peristiwa 28 Oktober 1928 kongres pemuda. Selanjutnya cita-cita para pemuda memperjuangkan bangsa Indonesia merdeka pun terwujud, tentunya dalam dinamika penuh heroik kepahlawanan yang berbasis kecintaan luhur sebagai satu tarikan nafas senasib sepenanggungan terhadap perjuangan suci, untuk lepas dari cengkraman keserakahan, penindasan, penjajahan atas suatu bangsa di atas kaki bangsa lain, dimana seluruh komponen wakil bangsa hadir dalam proses kemerdekaan Indonesia seutuhnya, yaitu ada wakil daerah, wakil agama, dan wakil golongan intinya Bhineka Tunggal Ika kemudian lahir Pancasila sebagai komitment kolektif kesepakatan nasional. Sehingga semangat kemerdekaan Indonesia dalam perspektif kemajuan bersama tidak lagi dikoptasi oleh “tafsir tunggal” suatu kepentingan elit politik sesaat. Berjangka pendek dan bersifat transaksional Parsial-primordial.

Perjalanan ke tempat studi memberikan sedikit jeda dalam bayangan imaji merasakan betapa pedih dan letih nya memperjuangkan cita-cita itu, serta warna pemikiran penulis berselancar menelusuri proses kebebasan meraih kehormatan kebangsaan yang sempat berkembang dalam hati bergemuruh dan berkecamuk, dalam tulisan ini untuk menemukan kembali, sebenarnya enigma apa menjadi inti yang paling mendasar dimaksud mencintai Indonesia, sebagai Bangsa yang kaya akan budayanya yang unik, eksotik dan luhur. Selanjutnya di tengah pencarian penulis tentang makna apa itu Bhineka Tunggal Ika, sebagai gagasan kebudayaan nusantara, yang mengantarkan semua komponen nilai yang ada untuk proses berbangsa dan mendeklarasikan menjadi suatu Entitas, kemanusiaan Indonesia merdeka dari penindasan dan penjajahan.

Baca Juga : Tokoh kebudayaan Internasional

Ada suatu keyakinan, bahwa proses terwujudnya suatu bangsa yang merdeka, tentu ada latar belakang pencetus ide penggerak bersatunya berbagai perspektif kebudayaan yang luhur dan bernilai agung dari cita-cita mulia para pejuang/pecinta yang berjiwa kenegarawanan, memiliki sikap rela berkorban, mengedepankan rasa berbasis cinta kebersamaan, guna mengesampingkan ego-sektoral kepentingan pribadi/elit kelompok, demi untuk mencerahkan/ merangkul semua serta mengakomodasi seluruh kepentingan bangsa tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih.

Adalah penting kiranya, disadari bersama dalam kesimpulan penulis kesempatan ini, bahwa pesan-pesan dalam merekatkan kembali keutuhan kita sebagai entitas bangsa adalah proses yang sangat mahal, sehingga pertaruhan yang bersifat politik kekinian, berupa proses ritual rutinitas progres euphoria demokrasi elektoral (pileg, pilpres, pemilihan, dst) tidak sampai harus menggerus bahkan merusak keseimbangan langkah berkemajuan dalam cita-cita, Berbangsa, ber-Bhineka Tunggal Ika, dan ber-Pancasila. Wallahu a’lam bishawab


Penulis Ketua Bawaslu Kabupaten Tangerang