Warga Kampung Poncol, Setu Tangsel, Tuding Berita Terkait Ketegangan dengan Mahasiswa Unpan Telah “Dipelintir”

MediaBantenCyber.co.id (MBC), Kota Tangsel- Warga Kampung Poncol, Kelurahan Babakan, Kecxamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menuding pemberitaan terkait Ketegangan antara warga masyarakat Kampung Poncol, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan dengan sejumlah kelompok mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) yang terjadi pada Minggu (05/05/2024) malam, telah “Dipelintir” oleh sejumlah media dalam pemberitaanya. 

Hal tersebut disampaikan oleh Wawan salah seorang pemilik kontrakan yang lokasinya tidak jauh dari lokasi kontrakan yang 

menjadi tempat ketegangan antara warga masyarakat Kampung Poncol dengan sejumlah kelompok mahasiswa Universitas Pamulang. 

Wawan mengakui, dirinya tidak mengetahui dari awal terjadinya ketegangan tersebut, namun dirinya mengetahui secara langsung terkait adanya penyerangan dengan senjata tajam (sajam) dari dua orang oknum warga kepada salah satu mahasiswa Unpam, namun bukan kepada kelompok mahasiswa Unpam yang terlibat ketegangan dengan warga masyarakat Kampung Poncol, dan dirinya memastikan bahwa tidak ada peristiwa Pembacokan terhadap sekelompok mahasiswa Unpam yang bersitegang dengan warga masyarakat dilokasi kejadian seperti yang diberitakan oleh sejumlah media nasional yang telah beredar di publik saat ini. 

“Warga masyarakat Kampung Poncol hanya meminta agar sekelompok mahasiswa Unpam yang berkumpul di dalam kontrakan tersebut untuk membubarkan diri karena aktivitas mereka sudah mengganggu dan meresahkan warga masyarakat Kampung Poncol. Dan juga dinilai oleh warga setempat mereka kerap membuat kegaduhan. Warga banyak yang resah dengan aktivitas mereka, karena mereka memang sering berkumpul di kontrakan tersebut,” kata Wawan, salah satu pemilik kontrakan lain yang tak jauh dari lokasi kontrakan tempat terjadinya keributan, dalam keterangannya secara eksklusif kepada MediaBantenCyber.co.id pada Jumat (10/05/2024) pagi 

“Kasus peristiwa pembacokan yang terjadi adalah kasus yang terpisah dari kasus ketegangan antara warga masyarakat Kampung Poncol dengan sekelompok mahasiswa Unpam, dan peristiwa itu sudah diselesaikan secara damai dan kekeluargaan antara kedua belah pihak,” terang Wawan. 

Menurut Wawan, warga masyarakat Kampung Poncol mengetahui jika sekelompok mahasiswa Universitas Pamulang ini hampir rutin berkumpul di kontrakan tersebut setiap pekannya. 

“Fungsi kontrakan adalah sebagai tempat tinggal untuk seseorang yang mengontraknya. Nah jika mau kumpul-kumpul dan melibatkan banyak orang, seharusnya meminta ijin dan memberitahukan kepada ketua RT setempat dan masyarakat sekitarnya, kalau seperti itukan maka kegiatan apapun yang positif pasti akan dapat berjalan dengan baik. Katanya mereka. mahasiswa, yang identik dengan kaum intelektual, seharusnya mereka punya adab dan etikanya harus minta ijin dulu dengan masyarakat setempat dan juga Ketua RT selaku aparat terkecil dari pemerintahan di tingkat kelurahan. Masa kaum intelektual tidak paham bagaimana seharusnya adab dan budi pekerti bermasyarakat yang baik?. Ingatlah kata pepatah bijak orang-orang tua kita dulu,” Dimana bumi di pijak maka disitulah langit kita junjung”, tuturnya. 

Sambung Wawan, sebelum dilakukan pembubaran oleh Ketua RT setempat, sudah coba dilakukan tindakan persuasif oleh Ketua RT setempat, dan Ketua RT sudah menegur para mahasiswa tersebut untuk berhenti melakukan aktivitasnya yang dinilai oleh masyarakat setempat sudah mengganggu kenyamanan masyarakat setempat. 

“Menurut kami warga masyarakat, Ketua RT sudah tepat melakukan tugas dan fungsinya sebagai ketua RT, karena dia adalah aparatur terkecil dari pemerintah daerah di tingkat kelurahan yang tugasnya menjaga keamanan, ketertiban, kenyamanan dan kondusifitas untuk seluruh warga masyarakat di lingkungan wilayah RT nya,” tandas Wawan. 

“Dan seharusnya menurut kami, Ketua RT kami itu diberikan pendampingan hukum oleh Pemkot Tangerang Selatan, karena dirinya sedang melaksanakan fungsi tugasnya sebagai ketua RT,” tegasnya. 

Ditambahkan Wawan, memang warga masyarakat lah  yang mengadukan kepada Ketua RT atas aktivitas para mahasiswa yang sudah mengganggu kenyamanan dan ketentraman masyarakat. Bahkan pernah ada orang yang sedang sakit dekat tempat mereka mengontrak tapi mereka tidak perduli dan tetap saja melakukan aktivitas nya yang cukup meresahkan masyarakat itu. Kemana sensifitasnya kaum intelektual mereka?,” ujar Wawan, mengakhiri keterangan eksklusifnya kepada MediaBantenCyber.co.id.(BTL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Hello
Can we help you?
.