Hindari Gagal Panen, Petani Percepat Panen Padi

waktu baca 2 menit
Kamis, 18 Jul 2019 10:29 1497 Redaksi

MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kabupaten Tangerang, Petani di Kabupaten Tangerang, di musim kemarau tahun ini lebih memilih memajukan masa tanam dan Panen Padi untuk menghindari Ancaman Kekeringan dan berujung Gagal Panen. Akan tetapi Percepatan Tanam dan Panen tersebut, berdampak pada kualitas Gabah kering. Namun hal tersebut menjadi satu – satunya pilihan bagi para Petani untuk terus memproduksi Padi.

Menurut Petani Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Abdullah (81) mengatakan, percepatan Panen menjadi Solusi setiap tahunnya di Musim Kemarau. Dikarenakan sumber daya Air yang dimiliki area Persawahan seluas 1 Hektar lebih hanya memiliki 1 aliran Irigasi untuk Puluhan bidang pertanian.

“Pertengahan Tahun ini Petani disini (Desa Ciakar) sudah 2 kali Panen Padi, tetapi untuk Panen yang kedua kami mempercepatnya karena sudah tidak ada air lagi di Irigasi dan hujan sudah seminggu tidak turun,” jelasnya, Kamis (18/7/2019).

Abdullah mengungkapkan, dari 1 Hektar area Persawahan tersebut merupakan tanaman Padi, dan dengan percepatan Panen yang dilakukan ini belasan Petani kemungkinan besar hanya akan mendapatkan 1.5 Ton Gabah kering.

“Seharusnya 3 bulan baru Panen, tetapi ini 2 bulan lebih seminggu kami sudah Panen. Kami sebenarnya bisa mendapatkan air dengan memanfaatkan peralatan Pompa air, namun biaya Bensin sebagai bahan utama Pompa itu yang cukup Mahal. Ini juga kami sudah merugi dengan mempercepat Panen dan kami hanya bisa menunggu Air hujan untuk masa Tanam selanjutnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Unawati, salah satu Petani lainnya di Desa Ciakar, pilihan mempercepat panen dinilainya sangat tepat karena bila tidak dapat menyebabkan gagal panen yang berdampak kerugian, meskipun kualitas daripada Gabah kering hasil mereka kurang begitu bagus.

“Dampak mempercepat panen ini, ya kualitas gabahnya sama berasnya kurang bagus. Karena yang seharusnya 3 bulan ini hanya 2 bulan lebih saja,” ungkapnya.

Keputusan para Petani tersebut ternyata juga dilakukan petani di wilayah Pantura. Tinang (60) salah satu warga Desa Kalibaru Kecamatan Pakuhaji menjelaskan, di area persawahan seluas 3.000 Meter persegi itu mempercepat Panen dilakukan untuk menekan angka kerugian dari sayur-mayur yang ditanamnya.

“Modal untuk menanam ini semua Rp30 Juta, biasanya dari Modal sebesar itu saya bisa mendapatkan Rp10 sampai 20 Juta keuntungannya. Tetapi kalau Musim Kemarau ini ya Rugi, walaupun Rugi saya tetap bertani karena ini menjadi satu-satunya Mata Pencaharian untuk menghidupi Keluarga saya. Karena itu saya mencoba untuk memilih mempercepat Panen,” pungkasnya. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA