Ananta Wahana Sebut Kongres GSNI Momentum Membangun Kader Pelajar Berkarakter

waktu baca 3 menit
Jumat, 26 Jun 2026 10:09 32 Redaksi

MediaBantenCyber.co.id (MBC), Surabaya — Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Surakarta periode 1982–1985 sekaligus mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) GSNI periode 1987–1990, Ananta Wahana, menilai Kongres GSNI yang digelar di Surabaya pada 25–27 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kaderisasi dan membangun karakter pelajar Indonesia. Menurutnya, organisasi pelajar harus mampu melahirkan generasi yang tangguh, berideologi, dan memiliki komitmen terhadap kepentingan bangsa.

Ananta mengatakan, kongres tersebut tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi titik awal memperkuat kembali peran GSNI sebagai wadah pembinaan kader nasional.

“GSNI harus menjadi wadah persemaian kader nasional. Organisasi ini harus hadir di mana-mana, tumbuh menjadi taman sari Nusantara yang melahirkan kader-kader terbaik bagi masa depan Indonesia,” ujar Ananta, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan, GSNI juga harus menjadi kawah candradimuka bagi remaja dan pelajar Indonesia dalam membentuk karakter, mental, serta jiwa kepemimpinan.

“GSNI harus menjadi kawah candradimuka bagi remaja dan siswa Indonesia yang tangguh, bermental pejuang, tidak mudah mengeluh, dan tidak menjadi generasi yang cengeng,” tegasnya.

Menurut Ananta, tantangan terbesar yang dihadapi organisasi pelajar saat ini adalah menguatnya budaya pragmatis yang berpotensi mengikis kepedulian sosial dan melemahkan pemahaman ideologi.

“Di tengah situasi yang serba pragmatis, hilangnya tanggung jawab sosial dan minimnya pemahaman ideologi menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kader GSNI jangan bersikap reaksioner dan jangan terlibat dalam politik praktis yang bersifat dukung-mendukung,” katanya.

Ia menegaskan, GSNI harus tetap berpegang pada slogan organisasi, yakni “Menari, Menyanyi, Belajar, Bekerja, dan Berjuang.” Menurutnya, slogan tersebut merupakan identitas gerakan pelajar yang kreatif, produktif, serta memiliki semangat pengabdian.

Ananta juga menekankan bahwa pendidikan ideologi harus terus diperkuat agar menjadi landasan berpikir dan bertindak bagi setiap kader.

“GSNI harus terus belajar ideologi, karena ideologi bukan hanya menjadi cara berpikir, tetapi juga menjadi cara hidup,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengimbau para senior GSNI agar memberikan ruang kepada kader muda untuk berkembang sesuai dengan tantangan zamannya, tanpa dibatasi oleh cara pandang generasi terdahulu.

“Biarkan GSNI berkembang sesuai tantangan zamannya. Generasi muda harus diberi ruang untuk berkreasi dan menemukan bentuk perjuangannya sendiri,” katanya.

Selain itu, Ananta mengingatkan kader-kader GSNI agar tidak terjebak dalam politik aliran yang dapat menghambat proses kaderisasi maupun merusak persatuan organisasi.

Di akhir pernyataannya, Ananta menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader dan senior yang telah berupaya membangkitkan kembali GSNI sejak organisasi tersebut lahir kembali pada 2018.

“Saya mengucapkan terima kasih atas segala usaha dan kerja keras dalam membangkitkan kembali GSNI sejak lahir kembali pada 2018. Semoga GSNI terus berkembang menjadi organisasi pelajar yang progresif, berideologi, berpihak kepada kepentingan rakyat, serta mampu melahirkan kader-kader bangsa yang siap mengabdi untuk Indonesia,” pungkasnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA