IMM PHILIA FISIP Kota Tangerang Ajak Mahasiswa Hidupkan Kembali Budaya Dialektika

waktu baca 2 menit
Selasa, 9 Jun 2026 17:56 191 Redaksi

MediaBantenCyber.co.id (MBC), Tangerang  – Gerakan mahasiswa Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah demokrasi, mulai dari peran penting pada peristiwa 1966 hingga Reformasi 1998 yang mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto. Namun, di tengah berbagai persoalan kebangsaan yang terus bermunculan, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana pengaruh gerakan mahasiswa saat ini terhadap perubahan kebijakan publik.

Menjawab keresahan tersebut, Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) PHILIA Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Cabang Kota Tangerang menggelar kajian bertajuk “Dialektika Filsafat dalam Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah” pada Senin (8/6/2026) di Warung Kopi Semanggi, kawasan Pendidikan Cikokol, Tangerang.

Kegiatan ini menghadirkan Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (BEM PTMA) se-Indonesia, Yogi Syahputra Al Idrus, sebagai narasumber. Diskusi dikemas secara sederhana melalui ruang dialektika yang melibatkan mahasiswa dalam suasana santai sembari menikmati secangkir kopi.

Ketua Umum PK IMM PHILIA FISIP, Nevio Zabry Rezyidco, mengatakan bahwa kajian tersebut merupakan respons atas keresahan mahasiswa dan masyarakat terhadap menurunnya daya pengaruh gerakan mahasiswa.

“Pertanyaan mengenai mengapa gerakan mahasiswa hari ini dinilai tidak memiliki pengaruh sebesar dulu lahir dari keresahan banyak mahasiswa dan masyarakat. Sebagai mahasiswa, khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, kami memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kembali kesadaran serta memperkuat arah gerakan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Dalam paparannya, Yogi menilai tantangan utama gerakan mahasiswa saat ini terletak pada perubahan orientasi gerakan yang dipengaruhi perkembangan teknologi dan media sosial.

Menurutnya, filosofi gerakan yang dahulu berangkat dari kesadaran berpikir kritis kini mulai bergeser menjadi orientasi pada eksistensi di ruang digital.

“Jika dahulu dikenal ungkapan ‘aku berpikir maka aku ada’, kini bergeser menjadi ‘aku klik maka aku ada’. Pergeseran ini memengaruhi kualitas gerakan mahasiswa yang seharusnya berpihak kepada rakyat, tetapi dalam beberapa kondisi lebih berorientasi pada eksposur,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kekuatan gerakan mahasiswa tidak dapat diukur dari besarnya pemberitaan maupun banyaknya sorotan kamera, melainkan dari konsistensi dalam menjaga nalar kritis, keberpihakan kepada masyarakat, dan keberanian mengawal perubahan.

Melalui forum diskusi tersebut, PK IMM PHILIA FISIP berharap budaya berpikir kritis, berdiskusi, dan membangun gagasan kembali tumbuh di kalangan mahasiswa. Organisasi itu meyakini bahwa perubahan besar dalam sejarah bangsa selalu berawal dari ruang-ruang diskusi yang melahirkan pemikiran dan kesadaran kolektif.

Kontributor: Salsabila
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA