Dokter melakukan prosedur endoskopi untuk mendeteksi dini gangguan dan kanker saluran cerna. (Foto: Ist) MediaBantenCyber.co.id (MBC), Serang — Endoskopi menjadi salah satu pemeriksaan penting dalam mendeteksi dini kanker lambung dan kanker kolorektal. Melalui prosedur ini, dokter dapat melihat langsung kondisi saluran cerna, menemukan kelainan sejak stadium awal, hingga melakukan pengambilan sampel jaringan atau tindakan terapi dalam satu prosedur. Karena itu, endoskopi dianjurkan bagi pasien yang mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan maupun sebagai skrining pada kelompok berisiko.
Banyak gangguan saluran cerna memiliki gejala yang hampir serupa, seperti nyeri ulu hati, mual, perut kembung, atau rasa tidak nyaman setelah makan. Namun, di balik keluhan tersebut dapat tersembunyi berbagai kondisi dengan tingkat keparahan yang berbeda, mulai dari gastritis ringan, tukak lambung, polip, hingga tumor pada saluran cerna.
Untuk membedakan berbagai kondisi tersebut secara pasti, dokter tidak cukup hanya mengandalkan keluhan pasien. Pemeriksaan yang dapat melihat langsung kondisi saluran cerna diperlukan agar diagnosis dapat ditegakkan secara akurat. Salah satu metode yang menjadi andalan adalah endoskopi.
Apa Itu Endoskopi?
Endoskopi merupakan prosedur medis menggunakan alat berbentuk tabung tipis dan fleksibel yang dilengkapi kamera serta sumber cahaya di ujungnya, yang disebut endoskop.
Alat tersebut dimasukkan ke dalam tubuh melalui mulut atau anus untuk memeriksa kondisi organ saluran cerna secara langsung.
Berbeda dengan pemeriksaan pencitraan seperti USG atau rontgen yang hanya memberikan gambaran dari luar, endoskopi memungkinkan dokter melihat warna, tekstur, dan kondisi permukaan organ secara nyata. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menemukan peradangan, luka, perdarahan, polip, maupun pertumbuhan jaringan abnormal yang mungkin tidak terdeteksi melalui metode pencitraan lainnya.
Selain sebagai alat diagnosis, endoskopi juga dapat digunakan sebagai tindakan terapi. Dalam satu prosedur, dokter dapat mengangkat polip, menghentikan perdarahan, hingga mengambil sampel jaringan (biopsi) tanpa memerlukan operasi terbuka.
“Endoskopi adalah mata kami untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam saluran cerna pasien. Banyak kondisi yang gejalanya mirip satu sama lain di permukaan, namun penyebab dan penanganannya bisa sangat berbeda. Tanpa endoskopi, kami sering hanya bisa menebak—dan menebak bukan dasar yang baik untuk pengobatan,” jelas dr. Rolan Sitompul, Sp.PD, KGEH, Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Bethsaida Hospital Serang, Senin (27/7/2026).
Jenis-Jenis Endoskopi Saluran Cerna
Endoskopi Saluran Cerna Atas (Esofagogastroduodenoskopi)
Pemeriksaan ini dilakukan melalui mulut untuk memeriksa kerongkongan (esofagus), lambung, dan bagian awal usus halus (duodenum). Endoskopi saluran cerna atas menjadi pemeriksaan standar untuk mengevaluasi keluhan seperti nyeri ulu hati kronis, kesulitan menelan, muntah darah, maupun dugaan tukak lambung. Pemeriksaan ini juga menjadi salah satu metode untuk mendeteksi infeksi bakteri Helicobacter pylori melalui prosedur biopsi.
Kolonoskopi
Kolonoskopi dilakukan melalui anus untuk memeriksa seluruh usus besar (kolon) hingga bagian akhir usus halus. Pemeriksaan ini merupakan metode utama untuk mendeteksi polip usus, kanker kolorektal stadium dini, penyakit radang usus, serta sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah.
Endoskopi dengan Tindakan Terapi
Dalam banyak kasus, endoskopi tidak hanya berfungsi sebagai alat diagnosis, tetapi juga sebagai tindakan terapi. Polip yang ditemukan dapat langsung diangkat melalui polipektomi, sumber perdarahan dapat dihentikan menggunakan teknik kauterisasi atau pemasangan klip, sementara jaringan yang dicurigai dapat diambil untuk biopsi. Seluruh tindakan tersebut dapat dilakukan dalam satu prosedur tanpa operasi terbuka.
Kondisi yang Dapat Dideteksi melalui Endoskopi
Melalui endoskopi, dokter dapat mendeteksi berbagai penyakit saluran cerna, di antaranya gastritis dan tukak lambung atau duodenum, infeksi Helicobacter pylori, GERD dan esofagitis, polip saluran cerna, kanker lambung, kanker kolorektal, penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, sumber perdarahan saluran cerna yang belum diketahui penyebabnya, hingga varises esofagus yang sering berkaitan dengan penyakit hati kronis.
Bagaimana Prosedur Endoskopi Dilakukan?
Masih banyak masyarakat yang merasa khawatir saat mendengar kata endoskopi karena menganggap prosedur ini menyakitkan. Padahal, endoskopi modern dirancang agar senyaman mungkin bagi pasien.
Sebelum tindakan, pasien diminta berpuasa selama beberapa jam agar saluran cerna dalam keadaan kosong. Khusus kolonoskopi, pasien juga perlu menjalani persiapan berupa obat pencahar untuk membersihkan usus besar.
Selama prosedur, pasien umumnya mendapatkan sedasi ringan sehingga merasa lebih rileks dan tidak banyak mengingat jalannya pemeriksaan. Dokter kemudian memasukkan endoskop secara perlahan, sementara kondisi saluran cerna ditampilkan secara langsung melalui monitor.
Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar 15 hingga 30 menit, tergantung jenis dan kompleksitas pemeriksaan.
Setelah tindakan selesai, pasien akan beristirahat hingga efek sedasi berkurang sebelum diperbolehkan pulang. Hasil pemeriksaan beserta dokumentasi gambar dapat langsung dijelaskan dokter pada hari yang sama, atau setelah hasil biopsi keluar apabila dilakukan pengambilan jaringan.
“Saya memahami bahwa banyak pasien yang merasa cemas sebelum menjalani endoskopi. Tapi setelah menjalaninya, hampir semua mengatakan hal yang sama—ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Dengan sedasi yang tepat, prosedur ini jauh lebih nyaman daripada yang banyak orang kira, dan informasi yang didapatkan jauh lebih berharga daripada rasa cemas sesaat sebelum tindakan,” ujar dr. Rolan.
Siapa yang Perlu Menjalani Endoskopi?
Pemeriksaan endoskopi dianjurkan bagi masyarakat yang mengalami nyeri ulu hati atau gangguan pencernaan yang menetap dan tidak membaik dengan pengobatan, kesulitan menelan, muntah darah, buang air besar berwarna hitam seperti aspal, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia yang belum diketahui penyebabnya, perubahan pola buang air besar yang menetap, memiliki riwayat keluarga kanker saluran cerna, maupun mereka yang berusia 45–50 tahun ke atas sebagai bagian dari skrining kanker kolorektal.
Pentingnya Deteksi Dini
Endoskopi tidak hanya digunakan untuk menegakkan diagnosis pada pasien yang telah bergejala, tetapi juga menjadi metode skrining yang efektif untuk mendeteksi penyakit sebelum menimbulkan keluhan.
Kanker kolorektal, misalnya, sering berkembang dari polip yang tumbuh perlahan selama bertahun-tahun tanpa gejala. Sementara kanker lambung dapat dideteksi lebih awal melalui endoskopi sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar. Karena itu, skrining kolonoskopi dianjurkan mulai usia 45–50 tahun atau lebih awal bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau polip.
Gangguan pencernaan yang berlangsung lebih dari dua minggu sebaiknya segera dievaluasi. Selain itu, menjaga pola makan sehat, memperbanyak konsumsi serat, mengurangi makanan olahan dan tinggi lemak, menghindari konsumsi alkohol berlebihan, serta berhenti merokok juga menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit saluran cerna.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandi, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan layanan diagnostik gastroenterologi yang setara dengan standar rumah sakit rujukan, termasuk fasilitas endoskopi modern yang didukung dokter konsultan berpengalaman.
“Kami ingin masyarakat Banten memiliki akses terhadap deteksi dini penyakit saluran cerna tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota besar,” kata dr. Tirta Mulya Juandi. (*)
Tidak ada komentar