Pemaknaan Manajemen Hamdallah dan Aplikasinya Dalam Kehidupan

waktu baca 5 menit
Minggu, 6 Feb 2022 14:03 826 Redaksi

Oleh: Ustadz H. Suradi, SE. MM (Pejuang Dakwah dan Pejuang Mutu) MediaBantenCyber.co.id (MBC) Kota Tangerang Selatan, Orang yang cerdas itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga ketika sebuah istilah mengemuka maka rasa ingin tahu tersebut diaktualisasikan dengan memahami maknanya. Setelah memahami maknanya maka terus berlanjut aplikasinya dalam kehidupan. Hal ini sangatlah beralasan karena setiap kita ingin meminimize terjadinya gap antara mengetahui maknanya dengan pengamalan atau penerapan dalam aktivitas kehidupan._______________Baca Juga : Forum Komunikasi Manajemen Mutu Tangerang, akan Gelar Konvensi XXV Tahun 2020 di Cisarua Bogor

Para guru kita sering mengingatkan untuk memperbanyak bersyukur minimal dengan bahasa lisan dengan mengucapkan alhamdulillah yang ternyata bila kita bedah mulai dari pemaknaan manajemen hamdallah dan aplikasinya dalam kehidupan sangat luas.

Sebagai dasar, acuan dan panduan ayat-ayat suci Al Qur’an sebagai berikut: 

Surat Ali Imran ayat 189

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu”.

Surat Ali Imran ayat 190

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Baca Juga : Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Manajemen Mutu dan Produktivitas Indonesia (DPP AMMPI) Gelar Rakernas di JDC Jakarta

Surat Ali Imran ayat 191

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Merasa suatu kehormatan bisa berjumpa dalam majlis llmu tempat berkumpulnya ahli imu, ahli ibadah dan ahli manfaat  karena banyak orang yang mau namun tidak mampu karena alasan kesehatan dan ada juga yang mampu namun tidak mau karena belum mendapatkan hidayah atau kesadaran spiritual.

Perbanyak memuji Allah. Dari Jabir bin Abdullah RA berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallahu dan doa yang paling utama adalah Al-hamdu Lillah.”  (HR. Tirmidzi). Perbanyaklah memuji Allah ketika kita berdoa sehingga memberikan peluang yang lebih besar doa tersebut diijabah oleh Allah. 

Terdapat 4 macam pujian yaitu Khaliq kepada Khaliq, Khaliq kepada Makhluk, Makhluk kepada Khaliq dan Makhluk kepada Makhluk. Dengan semangat pujian tersebut maka sebenarnya tidak ada lagi celah bagi kita untuk mencela. Karena pada hakekatnya apabila kita mencela sesuatu maka sama dengan kita mencela yang membuat atau menciptakannya. Memuji apa pun dan siapa pun = menguji Allah dan Mencela siapa pun dan apa pun = mencela Allah.

Baca Juga : Forum Komunikasi Manajemen Mutu Tangerang, akan Gelar Konvensi di Bogor

Berbaik sangka. “…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” QS Al Baqarah ayat 216. Oleh karena itu Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berusaha selalu berbaik  sangka kepada siapapun. Dalam Hadts Qudsi sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku…”.

Melihat sisi positif dapat diaktualisasikan dalam kehidupan kita antara lain: Melihat yang lebih tua = fokus amal sholeh. Melihat yang lebih muda = fokus dosa. Melihat yang rajin ibadah = fokus pahala. Melihat pendosa = fokus taubatnya & husnul khatimah, Melihat yang kaya = fokus rasa syukur dan keberkahan. Melihat yang miskin = fokus kesabaran & ringannya hisab di akhirat, Melihat yang pandai = fokus pada kemanfaatan, Melihat yang bodoh = fokus pada ringannya tanggungjawab.

Kekasihku yakni Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memerintah agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka serta beliau memerintahkan ku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada diatasku. …” (HR. Ahmad). Dari hadits tersebut mengajarkan kepada kita untuk melihat di bawah dalam hal urusan dunia.

Baca Juga : Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Manajemen Mutu dan Produktivitas Indonesia Gelar Rakernas

Hamdallah dalam perspektif multiple intelegensi. Ada sisi lain hamdallah karena  memberikan pencerahan terutama dalam memandang anak atau cucu kita  bahwa tidak ada anak atau cucu yang bodoh, bisa jadi satu sisi ada potensi yang belum kita ketahui menjadi sebuah kekuatan dan kelebihan yang dimilikinya. Ibarat katak tidak bisa terbang namun pintar berenang, sebaliknya burung pintar terbang namun tidak bisa berenang.

Semangat yang kita bangun adalah tetap berpikiran positif dan memanfaatkan peluang yang ada, berusaha hadirkan Allah setiap saat dan menjadi manusia ihsan ibarat ada CCTV yang memonitor kita 24 jam sehari semalam. Fokuslah kepada yang lebih utama dan jangan terjebak pada hal yang tidak utama. 

Untuk memupuk rasa syukur kita bisa ditempuh dengan berkunjung ke tempat-temoat tertentu antara lain kuburan atau makam yang akan mengingatkan kita kepada setiap yang berjiwa akan meninggal. 

Berkunjung ke rumah sakit memberikan ibrah begitu mahalnya nikmat sehat atas karunia yang Allah berikan.  Berkunjung ke penjara memberikan ibrah bagi kita bahwa orang dipenjara mengalami banyak keterbatasan dalam beraktivitas. Selain itu bisa ditambah dengan berkunjung ke panti asuhan, panti jompo atau posko tempat penampungan musibah atau bencana sehingga menumbuhkan kesadaran begitu banyak saudara kita yang lebih membutuhkan bantuan atau uluran tangan.

Ada nilai-nilai spirit untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakan waktu di dunia yang fana ini dengan memaknai Hamdallah dalam kehidupan bahwa segala pujian hanya milik Allah, semua yang Allah cipta dijadikan sarana zikir, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan, pengakuan tulus, semua atas karunia Allah, berbaik sangka, selalu memuji dan mencari sisi positif  serta ambil hikmah, mensyukuri nikmat, mempergunakannya untuk ibadah.

Secara umum sebagai konklusinya dimulai dengan pendekatan (approach) yang bersumber pada  Kitabullah, Sunnah Rasulullah dan beberapa kisah inspiratif. Dalam tataran implementasinya (deployment) memperbanyak memuji Allah. Sedangkan proses pembelajarannya (learning) dengan meningkatkan kadar kuantitas dan kualitasnya dengan cara saling nasehat menasehati (integration) dan insya Allah menghasilkan (result) menjadi manusia yang ihsan yang selalu diawasi Allah.

“Indah nian bunga melati, warnanya sungguh mempesona. Demikianlah artikel ini, semoga kita jumpa majlis ilmu berikutnya”. (BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA