Infografis karya Dr. Indiwan Seto tentang strategi menyajikan data secara visual ditampilkan dalam pelatihan asesor profesional di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Tangerang. Materi tersebut menekankan pentingnya hierarki visual, alur cerita data, dan kesederhanaan desain untuk meningkatkan efektivitas asesmen kompetensi. (Foto: Gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan oleh Indiwan Seto) MediaBantenCyber.co.id (MBC), Tangerang — Asesor profesional di Indonesia mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Grok untuk membantu merancang infografis asesmen guna meningkatkan efektivitas, transparansi, dan kualitas proses sertifikasi profesi.
Pemanfaatan AI tersebut menjadi salah satu materi utama dalam pelatihan pembuatan infografis asesmen yang diselenggarakan DPC Iaspro Tangerang di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Tangerang, Kamis (30/4/2026).
Narasumber pelatihan, Dr. Indiwan Seto, mengatakan perkembangan teknologi digital telah mendorong asesor untuk lebih adaptif dalam menyajikan materi asesmen secara visual dan komunikatif.
“Infografis membantu menjembatani pemahaman antara asesor dan asesi. Ketika alur penilaian divisualisasikan dengan jelas, potensi miskomunikasi saat observasi lapangan dapat ditekan seminimal mungkin,” ujar Indiwan, yang juga menjabat Ketua Bidang Media Kreatif DPP Ikatan Asesor Profesional Indonesia.
Menurutnya, penggunaan AI dapat membantu asesor menyederhanakan dokumen Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang selama ini dikenal teknis dan kompleks menjadi visual yang lebih mudah dipahami.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan praktik langsung menggunakan platform AI seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Grok untuk membantu menyusun konsep visual, merancang alur asesmen, hingga menyederhanakan poin-poin Unit Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja (KUK).
Indiwan menjelaskan, pemanfaatan infografis berbasis AI memiliki sejumlah manfaat strategis dalam proses asesmen kompetensi.
Pertama, membantu meningkatkan akurasi pengambilan keputusan karena asesor lebih mudah melakukan cek silang terhadap bukti kompetensi melalui tampilan visual yang sistematis.
Kedua, mempercepat proses asesmen karena peserta uji kompetensi dapat memahami instruksi kerja dan prosedur melalui visualisasi yang lebih sederhana.
Ketiga, meningkatkan transparansi sertifikasi karena setiap tahapan asesmen dapat dipetakan secara terbuka dan terukur.
Keempat, memperkuat citra profesional asesor sebagai tenaga kompetensi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi digital.
AI Hanya Alat Bantu
Meski demikian, Indiwan menegaskan penggunaan AI tetap harus disertai tanggung jawab profesional dan verifikasi yang ketat.
“Asesor tetap harus melakukan cek dan ricek serta menyediakan bahan yang relevan agar AI dapat memahami konteks sebelum menghasilkan infografis,” katanya.
Ia menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai asisten administratif dan pengolah data, sementara proses validasi, verifikasi bukti, dan pengambilan keputusan akhir tetap menjadi kewenangan asesor berdasarkan observasi nyata.
Indiwan juga mengingatkan adanya potensi bias maupun “halusinasi” AI yang dapat menghasilkan informasi tampak meyakinkan tetapi keliru secara teknis. Karena itu, seluruh teks, kode unit, visual, dan kriteria unjuk kerja yang dihasilkan AI wajib diperiksa ulang agar tetap sesuai dengan skema sertifikasi yang berlaku.
Selain aspek teknis, asesor juga diminta memperhatikan persoalan hak cipta pada penggunaan gambar, ikon, dan elemen visual lain dalam infografis, termasuk mematuhi ketentuan lisensi dari penyedia layanan AI.
Pemanfaatan AI dan media visual ini dinilai menjadi bagian dari transformasi digital sertifikasi profesi Indonesia menuju sistem asesmen yang lebih modern, efisien, dan kompetitif secara global. (*)
Tidak ada komentar