Memahami Algoritma Media Sosial dalam Mengubah Gaya Hidup Generasi Z

waktu baca 4 menit
Sabtu, 20 Des 2025 03:32 640 admin22

MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Banten, Media sosial telah menjadi ruang komunikasi utama bagi Generasi Z di Indonesia. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, referensi gaya hidup, hingga pembentuk identitas diri. Di balik intensitas penggunaan tersebut, terdapat algoritma yang mengatur konten apa yang muncul dan
terus dikonsumsi oleh pengguna. Dalam konteks ilmu komunikasi, algoritma dapat dipahami sebagai bentuk baru kekuasaan media yang bekerja secara tidak kasat mata, namun memiliki
dampak signifikan terhadap kehidupan sosial.

Generasi Z, sebagai digital native, cenderung tidak menyadari bahwa preferensi mereka dibentuk secara sistematis melalui paparan konten yang berulang. Oleh karena itu, penting
untuk memahami peran algoritma media sosial dalam mengubah gaya hidup Generasi Z dengan menggunakan perspektif teori komunikasi dan media.
Algoritma Media Sosial sebagai Gatekeeper Digital Dalam teori Gatekeeping, media memiliki peran menyaring informasi sebelum sampai kepada khalayak (Shoemaker & Vos, 2009). Pada media sosial, peran ini dijalankan oleh algoritma berbasis data.

Algoritma menentukan konten mana yang dianggap relevan, menarik, dan layak untuk ditampilkan di linimasa pengguna. Di Indonesia, algoritma TikTok misalnya, sangat cepat mempelajari minat pengguna melalui
fitur For You Page (FYP). Sekali pengguna menonton video bertema tertentu—seperti daily routine mahasiswa, konten healing, atau review produk viral—algoritma akan terus menyajikan konten serupa. Hal ini menjadikan algoritma sebagai penjaga gerbang utama yang
membentuk pola konsumsi media Generasi Z. Algoritma, Agenda Setting, dan Pembentukan Tren Gaya Hidup
Melalui kacamata teori Agenda Setting, media berperan dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh khalayak (McCombs & Shaw, 1972).

Algoritma media sosial menjalankan fungsi ini secara personal dan berulang.
Contoh kasus terkini di Indonesia adalah maraknya konten “self-reward setelah capek kuliah/kerja” dan “healing sebagai kebutuhan mental” di TikTok dan Instagram. Konten tersebut terus muncul dan diperkuat oleh algoritma, sehingga membentuk persepsi bahwa gaya hidup ideal Generasi Z adalah sering berlibur, nongkrong di kafe estetik, dan membeli barang sebagai bentuk apresiasi diri. Akibatnya, gaya hidup tersebut menjadi agenda utama dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z. Kultivasi Media dan Konstruksi Realitas Sosial Generasi Z

Menurut teori Kultivasi, paparan media yang terus-menerus dapat membentuk cara pandang individu terhadap realitas sosial (Gerbner, 1998). Dalam konteks media sosial Indonesia, algoritma memperkuat paparan terhadap konten yang menampilkan kehidupan ideal versi media. Konten “a day in my life”, productive student, dan soft life yang populer di kalangan kreator muda Indonesia menciptakan gambaran bahwa kehidupan Generasi Z seharusnya rapi, produktif, estetik, dan menyenangkan. Realitas ini sering kali tidak mencerminkan kondisi mayoritas anak muda, namun karena terus dikultivasi oleh algoritma, ia dianggap sebagai standar kehidupan normal.

Ekonomi Politik Media dan Budaya Konsumtif Digital

Dari perspektif Ekonomi Politik Media, media sosial beroperasi dalam logika kapitalisme digital yang menjadikan perhatian pengguna sebagai komoditas (Mosco, 2009). Algoritma dirancang untuk mempertahankan atensi pengguna selama mungkin, salah satunya melalui konten promosi dan iklan terselubung. Fenomena “racun TikTok” dan affiliate marketing yang marak di Indonesia merupakan contoh
nyata. Generasi Z tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga target utama pasar digital. Konten promosi produk yang dikemas secara personal dan relatable membuat batas antara hiburan dan iklan menjadi kabur. Gaya hidup konsumtif pun terbentuk sebagai bagian dari keseharian digital.

Uses and Gratifications, Echo Chamber, dan Tantangan Literasi Media Berdasarkan teori Uses and Gratifications, pengguna aktif memilih media untuk memenuhi kebutuhannya (Katz et al., 1974). Namun, algoritma mempersempit pilihan tersebut dengan
hanya menyajikan konten yang sejalan dengan minat pengguna. Hal ini memicu echo chamber, termasuk dalam isu sosial, budaya, dan keagamaan di Indonesia.

Meski demikian, algoritma juga dapat dimanfaatkan secara positif. Konten edukasi, dakwah digital, dan literasi keuangan yang berkembang di media sosial menunjukkan bahwa dengan literasi media, Generasi Z dapat mengendalikan algoritma, bukan dikendalikan olehnya.

Penutup

Algoritma media sosial memiliki peran besar dalam mengubah gaya hidup Generasi Z di Indonesia. Melalui pendekatan teori komunikasi dan media, dapat disimpulkan bahwa algoritma tidak hanya mengatur arus informasi, tetapi juga membentuk realitas sosial, pola konsumsi, dan identitas generasi muda. Oleh karena itu, penguatan literasi media dan kesadaran kritis menjadi langkah penting agar Generasi Z mampu berpartisipasi secara sehat dan
bertanggung jawab dalam ruang digital. (*)

Oleh: Helen Indriyanti (Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten.)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA