Kutukan Rakyat Itu Berbahaya Bagi Penguasa

waktu baca 3 menit
Selasa, 13 Jul 2021 16:54 484 Redaksi

Oleh: M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Kebangsaan) MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Bandung, Suara rakyat adalah suara tuhan “vox populi vox dei” karenanya hati-hati dalam bertindak atau membuat kebijakan, apakah sesuai dengan kemauan rakyat atau tidak. Terhadap sikap atau kebijakan yang bertentangan dengan aspirasi bahkan menyakiti rakyat akan berisiko berat. Kezaliman merupakan sesuatu hal yang dapat memancing murka-Nya.______________Baca Juga : RUU Pertanahan Dianggap Masih Berpihak ke Penguasa dan Pemodal

Tentu berbeda makna dengan kutukan atau tuah mistis seperti ceritra “The Curse of Tutanskhment’s Tomb”, “Da Billy Goat Curse”, ataupun film “The Curse of The Golden Flower”. Kutukan rakyat disini adalah jeritan kepedihan karena perlakuan yang tidak adil, menistakan, dan menginjak-injak kebenaran.  Dalam kaitan keagamaan maka itu adalah doa agar Allah menimpakan adzab atau keburukan pada penganiaya.

Ucapan HRS saat menerima ketukan palu vonis hakim “sampai jumpa di pengadilan akhirat” adalah doa yang mengancam. Doa orang yang tidak berdaya menghadapi hukum palsu dunia yang penuh rekayasa dan arogan. Negara tak boleh kalah, katanya. Maksudnya adalah HRS harus dihabisi. Organisasi FPI harus dihancurkan dan difitnah. Pengawalnya dibantai sebagai tekanan agar HRS menyerah.

Baca Juga : Mantan Ketum PP Muhammadiyah Prof Dr Amien Rais Menyatakan Saat Ini Penguasa Sudah Ugal-ugalan

Kezaliman kepada HRS dan organisasinya menjadi bagian kezaliman rezim kepada umat Islam. Sesak rasanya umat mayoritas dibawah pemerintahan Jokowi. Sulit bersimpati atas duka umat. Artis dan PENJILAT jauh lebih dihargai daripada tokoh agama dan ulama. Meski dinafikan tetapi faktanya Islamophobia terjadi. Sebutan radikal, intoleran, ekstrem dan sejenisnya disemburkan untuk mencemari umat.

Pasukan sampah dikerahkan untuk membentengi dan menjadi juru ejek. Buzzer sebutannya si tukang dengung yang berisik. Soal mutu dengungan tidak penting karena tugasnya hanya menebar racun nista atau dusta. Yang penting adalah agar umat gelisah, resah, bahkan mungkin marah-marah. Untuk sekedar melegitimasi tuduhan radikal, intoleran, dan ekstrim itu.

Baca Juga : Gus Nur Ditangkap, Hukum Makin Suka-suka Penguasa

Meminjam istilah Moeldoko mereka sebenarnya adalah lalat politik yang berterbangan di sekitar sampah yang berbau busuk. Dan para Buzzer itu berebutan mengais makanan dari tumpukan sampah Istana tersebut.

Kutukan rakyat “People’s Curse” berbahaya bagi penguasa. Artinya ia atau mereka sudah tidak mendapat kepercayaan lagi dari rakyat. Rakyat sangat berharap ada perubahan segera demi perbaikan. Ikhtiar dilakukan melalui kritik, pembangkangan, maupun doa-doa. Penderitaan itu dekat pada kabulnya doa. Penguasa arif akan takut pada doa orang alim. Sementara penguasa lalim akan semakin zalim pada orang alim.

Jangan Lewatkan : Pelanggan Keluhkan Layanan Internet IndiHome

Pandemi Corona virus menjadi momentum untuk memulihkan kewibawaan atau menghancurleburkan kekuasaan. Penguasa gerombolan biasanya sulit untuk disadarkan oleh ujian. Di tengah kesulitan masih berusaha mengeruk keuntungan. Rakyat pun hanya dijadikan batu loncatan untuk melompat dari satu rekening kepada rekening lain yang lebih banyak.

Kutukan rakyat akan mampu meredam dan menggoyahkan. Jika kekuasaan ilahi sudah datang untuk membantu maka tak ada kekuatan untuk bertahan. Penguasa angkuh itu akan segera bersimpuh tak berdaya.
Kuburan amblas dengan rintihan memelas. Frustrasi dan penyesalan diri.(BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA