Apa Kata Para Aktivis Masjid BSD Saat Bicara Tentang Makna Idul Fitri?

waktu baca 5 menit
Sabtu, 22 Apr 2023 18:27 500 Redaksi

MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kota Tangerang Selatan, Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”, Dan terkait dengan datangnya awal bulan suci Ramadhan 1444 H atau tahun Masehi yang jatuh pada hari Kamis, tanggal 23 Maret 2023) dan juga penetapan hari Raya Idul fitri 1 Syawal 1444 hijriah atau bertepatan dengan hari Jum’at  21 April 2023 sesuai dengan Maklumat dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang dikeluarkan pada tanggal 23 Desember 2022.____________Baca Juga : Janganlah Menjadi ‘Babu Banda’ yang Sifatnya Hanya Sementara di Dunia | apa kata para aktivis

Dan perihal telah berakhirnya bulan suci Ramadhan dan datangnya awal bulan Syawal atau yang dikenal dengan nama hari raya idul fitri 1444 hijriah (hari kemenangan) yang jatuh bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 21 April 2023, sesuai Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tersebut, beberapa tokoh dan aktivis masjid BSD dan Sekitarnya, seperti Dr. H. Masruri HM, Drs. MA, mantan Presidium FMMB yang saat ini juga menjabat sebagai ketua RW 04 Kelurahan Jelupang, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan juga Wakil Dekan (Wadek) fakultas ekonomi dan bisnis di Universitas Islam Syech Yusuf (UNIS) Tangerang, Ir. H. Eko Yuliandi (aktivis masjid BSD dan Sekitarnya yang juga mantan Kepala IT Bank Mandiri pusat) serta Ustadz Arif Faathir Ketua FDKM (Forum Dewan Kemakmuran Masjid) Kota Tangsel, saat dikonfirmasi MediaBantenCyber.co.id di lokasi kegiatan sholat Idul Fitri 1 Syawal 1444 hijriah atau bertepatan dengan hari Jum’at, 21 April 2023 di lapangan parkir Lotte Mart Alam Sutera, Serpong Utara, menyampaikan pandangan mereka tentang makna Idul Fitri.

Ustadz Arif Faathir

Baca Juga : Aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma “Menasehati” Presiden Jokowi Jika Mau Lengser Memiliki Legacy yang Baik | apa kata para aktivis

Menurut Ir. H. Eko Yuliandi, Idul Fitri berarti keberhasilan dan Kemenangan seseorang secara individu dan juga keberhasilan serta Kemenangan dari seluruh umat muslim di seluruh dunia dalam melawan hawa nafsu nya setelah selama satu bulan penuh antara 29 atau 30 hari berpuasa Ramadhan seseorang yang Beriman itu bukan hanya menahan rasa lapar dan haus, akan tetapi juga yang paling berat adalah menahan hawa nafsu nya sebagai seorang manusia yang sangat berat.

“Hari ini insya Alloh kira bersama-sama telah berhasil meraih kemenangan yang besar setelah sebulan lamanya kita berperang melawan hawa nafsu saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Dan saya berharap, setelah kita kembali ke fitrah (tanpa dosa ini) kita dapat terus menjaga kesucian diri kita dengan selaku istiqomah untuk terus menjadi lebih baik dan tawadhu dalam menjalankan segala perintah-Nya secara baik dan sebenar-benarnya,” tandasnya.

Baca Juga : Aktivis Kemanusiaan Lieus Sungkarisma Kunjungi Tiga Anak Piatu di Sukabumi yang Cuma Mampu Beli Garam Selama 1 Tahun untuk Lauk Makan | apa kata para aktivis

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forum Dewan Kemakmuran Masjid (FDKM) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Ustadz Arif Faathir, saat dikonfirmasi terkait makna Idul Fitri, menyatakan bahwa ujung dari perjuangan melawan rasa lapar dan hawa nafsu selama bulan ramadhan itu adalah Ketaqwaan kita kepada Allah SWT semakin kuat dan tebal.

“Khotib dalam khutbahnya tadi berulang kali mengajak kepada para jamaah untuk senantiasa mencintai kebaikan dan melakukan kebaikan bukan hanya di bulan ramadhan saja, akan tetapi kita harus dapat mengimplementasikannya setiap saat dengan istiqomah. Karena sesungguhnya sebaik-baiknya manusia itu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya (HR Ahmad Tarmizi),” ucapnya.

Ditambahkan Ustadz Faathir, sebagai tanda bahwa seseorang itu telah memperoleh kemenangan melalui penggemblengan lahir dan batin selama bulan suci ramadhan itu adalah, diharapkan agar kita semakin meningkatkan kerjasama dan semangat ukhuwah islamiyah antar berbagai lembaga yang ada seperti FDKM, FMMB, ormas-ormas keagamaan NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, DMI dan lain sebagainya, agar kita dapat bersama-sama dan bahu-membahu bekerjasama memerangi kemiskinan yang banyak terjadi ditengah masyarakat saat ini.

Ir. H. Eko Yuliandi

Baca Juga : Politisi Sadeli HS Gelar Reses Bersama Aktivis | apa kata para aktivis

“Jadi harus seimbang yang dilakukan oleh lembaga-lembaga keagamaan tersebut antara pembenahan masalah religius (akhlak-red) dengan masalah sosial dan kemiskinan yang saat ini banyak dialami oleh masyarakat,” tegasnya. 

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, DR. H. Masruri HM, Drs, MA, mantan Ketua Presidium FMMB (Forum Masjid Musholah BSD) dan Sekitarnya, menjelaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan itu sebenarnya adalah mengembalikan lima (5) fitrah manusia, yaitu: 1. Sesungguhnya seluruh umat manusia itu adalah mahluk yang beragama, karena saat janin berusia 3 bulan Sepuluh hari maka janin tersebut ditiupkan tuh oleh Allah SWT, dan saat itu juga sang janin mengaku bahwa Allah SWT adalah Tuhan dan Pencipta mereka. 2. Sesungguhnya manusia itu adalah mahluk sosial yang satu dengan lainnya saling berketergantungan dan tidak dapat mereka hidup di dunia secara sendiri-sendiri. 3. Bahwa sesungguhnya manusia itu adalah mahluk yang paling sempurna yang di Ciptakan Allah SWT dari mahluk-mahluk Ciptaan-Nya yang lainnya seperti Malaikat, Iblis, Jin, Setan, hewan dan juga tumbuh-tumbuhan. 4. Sesungguhnya manusia itu adalah mahluk yang Berakhlak, manusia harus dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk (dapat mengendalikan hawa nafsu nya), dan yang kelima adalah manusia itu saa dilahirkan semua dalam keadaan suci, akan tetapi setelah mereka tumbuh dewasa banyak dipengaruhi oleh banyak faktor dan lingkungan yang dapat mempengaruhi sikap, pikiran dan perilaku mereka dalam berkehidupan dengan mahluk lainnya.

“Sesungguhnya puasa Ramadhan itu dapat mengembalikan manusia pada kesucian sebagaimana saat mereka baru dilahirkan ke dunia. Karena sesungguhnya dua ibadah yang dapat mengembalikan lagi manusia pada keadaan yang suci adalah puasa Ramadhan dan ibadah haji yang mabrur. Dan yang penting untuk kita telaah adalah apakah puasa Ramadhan kita itu jika diumpamakan adalah puasanya Ulat ataukah puasanya Ular?, karena kalau puasanya Ulat maka kita akan memperoleh kebaikan/kesucian yang baru, sedangkan jika kita hanya mendapatkan puasanya Ular, maka kita termasuk akan menjadi golongan orang-orang yang merugi baik di dunia maupun kelak di akhirat,” tandasnya Dr. H. Masruri, yang juga Wakil Dekan II bidang SDM dan Kemahasiswaan Unis Tangerang itu, mengakhiri pemaparannya kepada MediaBantenCyber.co.id.(BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA