Budaya Egaliter Politik Transformatif Sebagai Entitas Negarawan Demokratis

waktu baca 5 menit
Jumat, 30 Apr 2021 21:01 882 Redaksi

Oleh: Andi Irawan MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kabupaten Tangerang, Proses konsolidasi Bertemunya kepentingan berbagai hajat masyarakat Indonesia yang Super majemuk. Adalah proses bukan sekedar indah di dalam dunia wacana teori dan perkara sederhana dalam perbincangan kalangan aktivis. Keterlibatan seluruh aspek pranata sosial yang menjadi dasar berjalannya dialog keIndonesiaan, seringkali melewati jalan terjal penuh liku melalui pendekatan jalur komunikasi secara politik. Persepsi masyarakat untuk menciptakan demokrasi yang merakyat, Bukan hal yang asing bagi masyarakat kita tentunya, karena prinsip kebersamaan dan kepedulian sejak dahulu kala, mungkin sejak jaman sebelum dikenal adanya prasasti situs kebudayaan peradaban di kerajaan nusantara. Budaya keguyuban, kegotong royongan, riungan, padangan, arisan, patungan, jimpitan, menjadi legacy khazanah kerukunan nusantara.

Berangkat dari cita-cita proklamasi tahun 1945 kemerdekan Indonesia raya adalah doa bangsa yang terus dikumandangkan sepanjang sejarah selama hayat dikandung badan oleh segenap jiwa raga Seluruh Rakyat dan tumpah darah Indonesia. Sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alenia kedua;…. mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Begitu luhur cita cita Proklamasi kemerdekaan yang di wariskan para pendahulu pejuang bangsa, bahwa mereka adalah para perintis negarawan, yang lahir atas satu tarikan nafas budaya egaliter (bersifat sama; sederajat), yaitu budaya yang dibangun atas kesamaan hak dalam strata sosial, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, seiring sejalan, saling menghormati, saling menguatkan, saling mengapresiasi, saling tolong menolong, siap berkorban untuk berkenan saling membantu sesamanya, bersifat guyub saling menyayangi, menebarkan kebaikan untuk semua.

Memaknai Kesamaan hak sebagai manusia adalah sama dalam pandangan hukum, sosial, prinsip dasar kemanusiaan, secara universal sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Penulis mengutip juga tentang prinsip kesamaan, pada; Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat telah menumbangkan doktrin sosial yang sangat dominan pada saat itu yakni berupa hak dari raja-raja dianggap sebagai pemberian dari Ilahi Divine right of kings dengan berganti menjadi bahwa Semua manusia dilahirkan/diciptakan adalah dalam keadaan yang sama/sederajat “All men are created equal”. Dikutip dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Egalitarianisme. Selanjutnya rangkaian budaya egaliter dalam konteks kesejahteraan rakyat suatu bangsa, tentu tidak bisa dipisahkan dari peran politik (baca: Kekuasaan kebijaksanaan) pemerintahan, yang mampu mentransformasikan (baca: mengubah bentuk)/trans·for·ma·tif a bersifat berubah-ubah bentuk (rupa, macam, sifat, keadaan, dan sebagainya), https://kbbi.web.id/transformatif.html kondisi rakyat yang penuh derita dan sengsara atas penindasan kondisi sebelumnya menuju kebebasan yang memberdayakan, membawa pada martabat keadilan bagi seluruh rakyatnya. Menjadi pondasi dan semangat bernegara secara demokratis (kedaulatan di atas kepentingan dari, untuk dan oleh rakyat).

Baca Juga : Desa Gempol Sari Gelar Budaya Ngaruwat Bumi

Pemahaman politik transformatif tentunya menjadi alat para pemegang kendali kekuasaan yang diberi kesempatan mengelolanya. Merujuk pengertian Politik menurut KBBI Online, po·li·tik 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan) bersekolah di akademi –; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) 3 cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah). https://kbbi.web.id/politik.html. Istilah entitas diambil dari en·ti·tas /éntitas/ n satuan yang berwujud; wujud. https://kbbi.web.id/entitas.html. Pengertian Negarawan menurut KBBI online https://kbbi.web.id/negarawan.html ne·ga·ra·wan n ahli dalam kenegaraan; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan: beliau merupakan pahlawan besar dan — agung;, sedangkan pengertian demokratis mengambil makna dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara. Demokrasi juga merupakan seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan beserta praktik dan prosedurnya. Demokrasi mengandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

Kesimpulan dari perspektif mengenai pengertian, beberapa istilah yang dikemukakan penulis, adalah bentuk kerinduan serta harapan dari seluruh rakyat Indonesia dalam mempersiapkan, mengedukasi seluruh entitas (baca satuan/kumpulan/komunitas yang diakui perwujudannya secara adat/ norma hukum), yang menopang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Tentunya edukasi yang dimaksud dari tulisan ini adalah bahwa; dengan terus mentradisikan, membiasakan proses melatih kondisi budaya dimana pun berada, pada setiap pribadi warga negara kita tercinta ini adalah untuk didedikasikan menjadi pelanjut cita-cita Proklamasi 1945 sebagai narasi kekuatan doa bangsa yang powerfull, mengantarkan pada perubahan bentuk marwah kehormatan bangsa yang paripuna yakni bebas merdeka, sejahtera, adil dan makmur, yang dikonfirmasikan (diperjuangkan) secara tulus ikhlas oleh Para entitas negarawan (Pemimpin merakyat/ bukan pencitraan) yang rela berkorban, siap menyatu, atas derita dan menyeka air mata ( memberi jalan keluar) rakyatnya, kesemuanya itu secara demokratis dikritisi dan dikawal agar tidak berhenti hanya pada tataran teori di atas awan atau manisnya janji para politisi langitan ( abai dengan realitas jauh dari rakyatnya) yang sedang menikmati kesempatan kekuasaan sebagian waktu yang diamanahkan. Semoga budaya politik Transformatif melahirkan calon entitas negarawan demokratis, Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.

Penulis Ketua Bawaslu Kabupaten Tangerang

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA