Fenomena NEET di Kalangan Gen Z: Cermin Perubahan Sosial yang Tidak Seimbang

waktu baca 3 menit
Jumat, 7 Nov 2025 20:30 607 admin22

MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Serang, Dalam beberapa tahun terakhir, indonesia menghadapi fenomena sosial baru di kalangan generasi muda, yaitu meningkatnya jumlah Gen Z yang termasuk kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training) tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Fenomena ini menjadi cermin nyata dari perubahan sosial yang tidak seimbang, seperti yang dijelaskan oleh sosiolog Selo Soemardjan.

Selo Soemardjan berpendapat bahwa perubahan sosial yang berlangsung terlalu cepat tanpa kesiapan budaya dan struktur sosial dapat menimbulkan disorganisasi sosial keadaan di mana masyarakat belum mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Hal inilah yang tampak pada generasi muda saat ini. Di satu sisi, teknologi digital dan globalisasi membuka banyak peluang kerja baru, tetapi di sisi lain, tidak semua individu siap menghadapi perubahan yang kompleks tersebut. Banyak Gen Z yang mengalami kebingungan identitas karier, tekanan sosial, hingga kelelahan mental akibat ekspektasi tinggi dari lingkungan dan media sosial.

Di tengah kemajuan teknologi, mereka justru menghadapi kesenjangan keterampilan (skill gap) antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Sistem pendidikan yang masih berorientasi pada teori sering kali gagal membekali siswa dengan kemampuan praktis, seperti literasi digital, komunikasi, dan adaptasi terhadap perubahan ekonomi.

Selain itu, faktor ekonomi keluarga dan keterbatasan lapangan kerja formal juga memperparah situasi. Banyak anak muda di kota maupun desa yang akhirnya memilih untuk tidak bekerja karena merasa peluang yang ada tidak sesuai dengan minat atau kemampuan mereka.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada produktivitas nasional dan kesejahteraan sosial. Dalam konteks teori Selo Soemardjan, fenomena ini bisa disebut sebagai bentuk disorganisasi sosial generasi muda ketika perubahan sosial dan ekonomi tidak diimbangi dengan kesiapan nilai, budaya kerja, dan kebijakan publik yang mendukung. Akibatnya, sebagian masyarakat, terutama generasi muda, terpinggirkan dari arus pembangunan dan kemajuan.

Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan langkah nyata dari berbagai pihak. Pemerintah harus memperkuat program pelatihan keterampilan kerja, memperluas kesempatan magang dan inkubasi wirausaha, serta memperbarui kurikulum pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan industri modern. Selain itu, perlu ada dukungan sosial dan psikologis bagi anak muda agar mereka tidak kehilangan motivasi atau arah hidup.

Dan masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap pekerjaan dan pendidikan. Tidak semua kesuksesan diukur dari pekerjaan formal; kreativitas dan kemampuan beradaptasi harus mulai dihargai sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan sosial.

Akhirnya, fenomena NEET bukan sekadar masalah individu, tetapi cermin dari ketidaksiapan struktur sosial menghadapi percepatan perubahan zaman. Jika tidak ditangani dengan serius, generasi muda yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa justru bisa terjebak dalam lingkaran pengangguran dan ketidakpastian. (red)

Penulis: Zihan Fahira, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Administrasi Negara Universitas Pamulang Serang. Dosen pembimbing: Angga Rosidin S.I.P., M.A.P. Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Razie S.I.P., M.SOS

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA