Jeritan Pengecer Pertamax Soal Pertashop: Berharap Perhatian Pemerintah Menjadikan Sebagai Mitra

waktu baca 3 menit
Jumat, 6 Agu 2021 22:17 289 Redaksi

MediaBantenCyber.co.id (MBC) Kabupaten Tangerang, Para pengecer Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax mengeluhkan kehadiran Pertashop atau Pertamina Shop sebagai franchise yang merambah hingga ke pelosok permukiman. Pasalnya, masyarakat yang menghidupi keluarga dari berjualan BBM secara literan pasti tidak bisa bersaing dengan pemodal besar. Apalagi Pertashop menjual Pertamax dengan harga sama dengan SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) karena BBM disuplai langsung oleh Pertamina, sedangkan pengecer BBM literan membelinya dari SPBU. Bila Pertashop masih beroperasi, para pengecer akan melakukan aksi menjejerkan jerigen sebagai bentuk penolakan, karena mematikan mata pencarian mereka selama ini sebagai pengecer BBM.

Seperti yang dialami Budi Irawan, seorang pengecer BBM jenis Pertamax di jalan Pos 2, Desa Curugwetan, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Jumat (06/08/2021), dirinya tampak lesu karena di seberang Pom Mini miliknya telah berdiri berhadap-hadapan Pertshop yang akan menjual Pertamax secara langsung kepada masyarakat. Disebutkannya, kalau Pertashop berdiri masyarakat pasti akan beralih mengisi bahan bakar karena harga Pertamax yang dijual Pertashop sama dengan di SPBU.

“Kalau Pertashop merambah, distribusinya ke kami sajalah! Kami berharap kepada pemerintah dan Pertashop, menjadikan kami sebagai mitra. Sebagai pengecer kami orang kecil menjual Pertamax Rp10 ribu per liter karena membelinya dari Pom Bensin/SPBU pasti kalah dengan Pertashop yang menjual Pertamax Rp 9 ribu per liter. Karena mereka usaha besar dengan tangki sampai 1000 liter, sedangkan kami dalam sehari paling banyak menjualnya 100 liter,” ungkapnya.

Ditambahkan Budi, penghasilan bersihnya dari menjual perhari sebanyak 100 liter yang rata-rata keuntungannya cuma Rp 60 ribu per hari untuk menghidupi 4 orang dalam sekeluarga, di masa pandemi Covid-19 ini sudah sangat merasakan berat menanggungnya.

“Kalau begini sudah pasti usaha kami yang hanya berjualan BBM kecil-kecilan akan mati lantaran merambah nya perusahaan besar yang tidak memikirkan usaha kecil yang hanya untuk menyambung hidup ini,” keluhnya.

Meski terkait tak tahu apa yang harus dilakukannya, namun Budi berharap ada rasa empati dari Pertashop kepada orang-orang yang mengalami nasib seperti dirinya. Misalnya, walaupun Pertashop tetap membuka usaha yang sama dengan orang kecil, dengan menjadikannya sebagai mitra yang saling menguntungkan.

“Ya, supaya bisa dapat terus berusaha jualan BBM eceran, saya berharap Pertashop bisa menjadikan kami mitra sehingga walaupun kecil-kecilan bisa tetap berusaha. Sedangkan Pertashop cukup menjadi distributor BBM Pertamax kepada pengecer dan tidak menjualnya secara langsung kepada masyarakat,” harapnya.

Senada dengan Budi, pengecer BBM Pertamax lainnya bernama Ardi yang berusaha di tempat lain, mengatakan apa yang sedang dirasakan teman seprofesinya akan dirasakan juga oleh teman-teman lainnya yang mata pencariannya dari berjualan BBM.

“Persoalan seperti ini juga akan dirasakan oleh pengecer BBM di daerah lain bahkan se-Indonesia. Jadi, kami berharap Pertashop cukuplah jadi distributor dan bermitra untuk kami saja. Biarkan kami saja yang mengecer BBM ke masyarakat di jalan. Tapi kalau tetap begini, kami komunitas pengecer akan lakukan demo seperti menjejer jerigen di depan usaha mereka,” tutur Ardi. (BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA