Oleh: Andi Irawan MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kabupaten Tangerang, Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Lalu apa yg menjadi grand design……? Orientasi pendidikan nasional bagi generasi berikutnya. Tulisan ini sebagai Lensa pemikiran dan perenungan Hari Pendidikan Nasional di masa kritis, merancang harapan baru untuk generasi bercahaya. Pendidikan dan Pemikiran mewujudkan kemajuan Indonesia, adalah tema yang tak ada habisnya untuk terus dibincangkan, serta dielaborasi menjadi konstruksi gagasan pencerahan untuk kaum intelektual yang gelisah akan perubahan bagi kemanusiaan. Nilai-nilai keterbukaan, kemerdekaan berpikir, dan semangat kebangsaan yang menyatukan Indonesia seutuhnya, penting kiranya dikawal dan terus dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan.___________________Mantan Wartawan Kompas Pepih Nugraha Dan Kader PSI Guntur Romli, Sebarkan HOAX Memalsukan Dana Anggaran Gubernur DKI Jakarta Soal Penanggulangan Covid-19
Mengutip pesan Buya Safii Maarif dalam menyikapi persoalan yang ada, dimana Buya mengingatkan Modal sosial dan kultural untuk bertahan sebagai bangsa cukup besar sekalipun belum sempurna. Bangsa ini masih dalam proses “menjadi”, belum jadi betul 100 persen. Itulah sebabnya mesti dijaga dan dirawat terus-menerus, tanpa henti, tanpa lelah ( Resonansi Republika.co.id 03 April 2018), kemudian rasa kesal Buya atas berita penangkapan seorang menteri oleh KPK, menghimbau marilah semua elemen bangsa sadar dan segera siuman dengan kondisi bangsa ini. (News Republika.co.id, 26 November 2020). Ada kegelisahan yang sama diungkapkan oleh Tamsil Linrung, Senator DPD RI – Komite III Membidangi Sektor Pendidikan, beliau mengatakan Hilangnya jejak tokoh pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang beredar luas di berbagai platform digital, memperpanjang daftar kegaduhan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya, kita dikagetkan dengan kata “agama” yang raib dalam dokumen Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035. Hal itu mencuat ke publik setelah Muhammadiyah secara kelembagaan melontarkan kritik pada bulan Maret yang lalu. (Resonansi Republika.co.id 23 April 2021).
Kegelisahan Intelektual terkait arah Pendidikan Indonesia juga dialami penulis, sebenarnya Kompas Orientasi Pendidikan kita diarahkan kemana?, hal ini bukan suatu pertanyaan reaksioner atau sekedar meramaikan jagad perdebatan dunia pendidikan apalagi lancang melibatkan diri dalam rancang kebijakan yang sedang berjalan, ini hanyalah bentuk rasa kecintaan serta hasil pergulatan batin dalam kontemplasi reflektif mandiri, seorang Insan Pembelajar, terusik atas satu harapan serta pengalaman yang cukup kuat tertanam sejak meniti karir sebagai seorang guru, Harapan orientasi itu begitu melekat hingga kini walaupun penulis berada pada ruang yang tidak lagi langsung berkecimpung dalam rutinitas tugas formal pendidikan. Mendambakan orientasi Pendidikan Insan bercahaya, kelak mendapatkan ruang aktualisasinya secara kokoh di negeri ini.
Adapun Cahaya yang dimaksud adalah filosofi dari suatu istilah yang memiliki sifat menerangi seluruh aspek, baik dari sumber hingga terciptanya suasana dan sikap saling memantulkan keadaan kondisi tersinari karena dampak yang ditimbulkannya, sehingga menjadi terang benderang tercerahkan. Dengan kata lain lawan dari cahaya adalah kondisi gelap gulita terhalang tanpa terlihat ada yang menyinarinya seperti keadaan malam pekat, atau tersembunyi oleh suatu yang menutupinya, sehingga menjadi suatu kegelapan yang membingungkan. Filosofi ini menurut Kiai Nur Alamsyah Sahabat saya dalam kesempatan diskusi ringan, kata Cahaya tersirat dalam pesan Alqur’an ayat 257 artinya: Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
Baca Juga : Keluarga Korban Perampasan Tanah di Balikpapan, Kecewa Dengan Berita Kompas.Com
Perumpamaan Pendidikan Insan Bercahaya juga bisa diibaratkan, matahari yang menyinari langit dan bumi, seperti yang dijelaskan dalam pesan Alqur’an Surat An-Nur ayat 35; Artinya: Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Bahwa dalam tulisan ini, semoga menjadi jembatan harapan penghubung guna menemukan kembali kompas arah pendidikan generasi Indonesia bercahaya, yaitu energi yang mencerahkan jiwa ruang batin, melalui metode inspirasi nasehat bimbingan keteladanan para pendidik, serta membuka cakrawala pengetahuan menerangi jiwa ruang pikir generasi Indonesia oleh cahaya ilmu, dapat dengan mudah diselenggarakan, baik dari sumber hukum sebagai perancang eksistensi penganggarannya, terbina perangkat instrumen pelaksanaan pendidikan, Para gurunya pun harus bercahaya, hingga pada akhirnya harmonisasi komunitas generasi pembentuk keadaban masyarakatnya menjauhi kegelapan (Mental Korupsi, dan kerusakan hidup lainnya), sebab terbangun oleh pondasi cahaya ilmu itu sendiri, dimana tidak sekedar menjadi harapan, tetapi mudah-mudahan izin Tuhan yang maha kuasa Allah SWT mewujudkannya menjadi Nyata. Aamiin.
Penulis Adalah Insan Pembelajar Indonesia
Tidak ada komentar