Masjid Sebagai Pusat Kreativitas Dakwah Muhasabah Dalam Rangka Milad FMMB ke-15

waktu baca 9 menit
Kamis, 13 Jan 2022 21:28 366 Redaksi

Oleh: Dr H Nurudin Hery Kustanto, M.M.(Presidium FMMB/Forum Masjid Musholah BSD dan Sekitarnya) MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kota Tangerang Selatan, Kata masjid berasal dari kata sajada-yasjudu-masjidan, yang kata kerjanya berarti bersujud atau menyembah dengan kata bendanya tempat bersujud. Dari awal sejarahnya masjid di samping sebagai tempat muslim melaksanakan sholat, Rasulullah SAW telah menjadikan masjid juga sebagai tempat interaksi beliau dengan umatnya. Tidak hanya sekedar interaksi tetapi semua komunikasi dan koordinasi (dalam bahasa sekarang) terkait aktivitas nubuwah, ibadah, muamalah berpusat di masjid. 

Orang bertamu, mau bertanya atau sekedar bertemu dengan Rasulullah cukup datang ke masjid. Pendeknya, di samping karena sikon jaman itu, masjid dari awalnya telah dipakai sebagai pusat kegiatan umat. Itulah relevansinya di dunia Islam juga terjadi di Indonesia, yaitu berkembangnya Islamic Centre (pusat kegiatan umat Islam). 

Baca Juga : FDKM Kota Tangsel Banjir Amanah dari Masjid dan Mushola untuk Penyaluran Donasi Bagi Palestina

Biasanya di dalam komplek Islamic centre bangunan utamanya tentu masjid. Ditambah ruangan-ruangan yang dipakai untuk kegiatan dakwah Islam. Sebagai contoh Jakarta Islamic Center yang mengklaim sebagai pusat peradaban Islam, di dalamnya terdapat fungsi-fungsi: peribadatan, pendidikan dan pengembangan SDM, sosial budaya informasi dan komunikasi serta pengembangan bisnis. Ada juga fungsi pendukung yang mencakup sub-sub fungsi penelitian dan pengembangan, manajemen properti, keamanan, teknologi informasi, personalia, humas, administrasi dan keuangan.

Fungsi operasional organisasi masjid telah berkembang sedemikian luas tidak jauh berbeda dari scope organisasi bisnis. Yang membedakan cuma satu namun substansial, yaitu nawaitunya, niatnya. Organisasi bisnis pasti ujungnya komersial sehingga niat dari awal mencari keuntungan, sedangkan organisasi masjid niatnya berangkat dari awal adalah mencari ridho Allah semata sehingga ujungnya adalah dakwah. Semua program aktivitas masjid dikemas dengan sistem manajemen modern yang menarik dengan tujuan utama mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (dakwah amar makruf nahi mungkar).

Kata dakwah secara etimologi berasal dari bahasa Arab dari kata da’a-yad’u-da’watan. Kata tersebut memiliki kesamaan makna dengan an nida’ yang artinya memanggil, mengajak, menyeru. Dalam Al-Qur’an, kata dakwah ini memiliki makna hampir sama dengan tabligh, nasihat, tarbiyah, tabsyir, dan tanzdir. Contoh di surat Yunus: 25 : Wallahu yad’u ila darussalam wayahdi man yasayak ila siratin mustaqim (Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang Dikehendakinya kepada jalan yang lurus (Islam). 

Baca Juga : MUI Himbau DKM Masjid Bantu Umat Korban Dampak Ekonomi Akibat Penerapan PPKM Darurat

Menurut As Syaikh Ali Mahfudz makna dakwah secara bahasa adalah ‘ad-du’a ila syainn bima’na al-hatssu ‘ala qasdihi mengajak atau menyeru kepada suatu hal, atau memotivasi, mengajak, menyeru sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai’. Adapun secara terminologi, dakwah adalah menyeru manusia untuk menuju kepada kebaikan dan petunjuk, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang perbuatan keburukan (munkar) agar manusia berhasil mendapatkan kebahagiaan kehidupan dunia dan akhirat.

Baca Juga : Mengungkap Sejarah Pendirian Masjid Islamic Center Kota Tangerang Selatan

Singkatnya koridor dakwah adalah: produksi konten benar dan baik, disampaikan ke publik, platformnya halal dan menarik, caranya bijaksana, tujuannya mengajak bahagia dunia akhirat. Sehingga kalau diperluas dalam definisi dakwah kekinian: berkembang menjadi apapun profesi seseorang bila memiliki tujuan-tujuan dengan koridor di atas sejatinya secara langsung atau tidak langsung dia telah berdakwah. 

Ahli IT yang pekerjaannya unggul, perilakunya terpuji, ibadahnya mantap sehingga berdampak pada keinginan orang lain untuk meniru dan mengikuti kebaikannya maka substansinya dia telah berdakwah dengan perbuatan. Kreator konten bisa tulisan maupun gambar (video) yang produknya memberikan inspirasi yang dapat membuat penikmat karyanya semakin taat kepada Allah jelas dia sedang berdakwah sekaligus menjalankan pekerjaannya.

Secara konvensional metode dakwah yang biasa dikenal adalah: dakwah bil lisan, yakni dakwah secara lisan. Dakwah model lama yang akan selalu tetap dibutuhkan sampai sekarang. Para kyai dan ulama menggunakan metode ini untuk proses tarbiyah umat dari dulu sampai sekarang. Ada lagi dakwah bil qolam, yaitu dakwah melalui tulisan. 

Baca Juga : Masjid Baitul Hikmah BSD Bersama Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Gelar 2000 Vaksinasi

Para ulama Islam klasik luar biasa meninggalkan karya-karya masterpiece nya melalui kitab-kitab yang dihasilkan. Sebagai contoh Hujatul Islam Imam Al Ghozali dengan kitab top sepanjang masa, Ihya Ulumiddin,  kitab tebal tebal yang sampai sekarang masih diajarkan di pesantren dan sering dijadikan rujukan para da’i. Ada juga dakwah bil hal, dakwah dengan perbuatan. Action speaks louder than words (perbuatan bicara lebih keras dari kata-kata). 

Memberi contoh dengan satu perilaku nyata terbukti lebih efektif dari pada 1000 kali ceramah mengajak orang lain kepada kebaikan. Contoh nyata adalah keberhasilan dakwah walisongo dalam mengislamkan penduduk pulau Jawa, dimana metode dakwahnya lebih menonjol pada keteladanan perilaku. Tentu saja dakwah bil lisan dan bil qolam  tetap ada namun kuantitasnya lebih dominan pada memberikan teladan melalui perilaku secara langsung.

Yang menarik di abad ke 21 ini, ada model dakwah baru yang tidak kalah serunya yaitu dakwah bil medsos. Dakwah bil grup wa, dakwah bil instagram, dakwah bil youtube, dakwah bil poscast, dll. Bahkan sejak ada pandemi covid kita mengenal ada jamaah taklim zoomiyah. Taklim menggunakan platform zoom yang bisa diikuti oleh semua orang di manapun berada tanpa ustadz/kiainya harus hadir langsung, yang dulu hal ini tak pernah terbayangkan dan terpikirkan.

Baca Juga : DKM Masjid Baitul Hikmah Nusaloka BSD, Berikan Penghargaan Kepada MediaBantenCyber.co.id

Kreativitas berasal dari kata creare (latin) menjadi create (inggris) yang berarti mencipta, membuat. Dalam Bahasa Indonesia kreativitas menjadi kata benda. Kata sifatnya kreatif. Pelaku atau orangnya disebut kreator. Sering kita mendengar kata kreator konten, yaitu orang yang membuat karya-karya yang dimuat di media sosial digital. Secara istilah kreativitas adalah kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru/beda/unik, tepat menjadi solusi terhadap tantangan  yang luas. 

“Creativity is the production of a novel and appropriate response, product, or solution to an open-ended task (Amabile, 2012). Dari definisi tersebut tersirat makna tepat sasaran dan kata respon yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu esensi dari kreativitas adalah keharusan adanya manfaat sebagai dampak dari produk yang tepat atau solusi yang sesuai dengan sasarannya. 

Contoh nyata dari kreativitas adalah munculnya ide ojek online sebagai terobosan solusi mengatasi kemacetan jalan di Jakarta pada jam kerja. Atau kalau di bidang dakwah munculnya ide terobosan taklim zoomiyah di masa pandemi yang tidak memungkinkan berinteraksi langsung. Taklim tanpa tatap muka langsung, tatap muka melalui alat (virtual), yaitu taklim melalui zoom (taklim zoomiyah).  

Baca Juga : Masjid Istiqlal Kini Telah Menjadi DESTINASI Wisata Baru?

Dari 2 contoh ini munculnya kreativitas didahului oleh adanya masalah. Di sinilah rupanya rahasia atau seni dari kreativitas. Dia tidak muncul tiba-tiba tanpa sebab. Orang menjadi kreatif bukan dengan melamun berlama lama atau mencari ilham di tempat angker. Justru sebaliknya harus bergumul, berinteraksi intensif dengan masalah-masalah yang harus dipecahkan. Terus mencoba dengan ide-ide terobosan agar mendapatkan solusi untuk mengatasi masalah.

Ada pepatah yang mengatakan orang kreatif itu sering salah dan orang pasif selalu benar.       
Keberhasilan orang kreatif bisa saja cuma sekali dari kesalahan 99 kali. Namun satu solusi yang besar sudah cukup sebagai jawaban masalah kehidupan berabad abad. Seperti kreativitas Thomas Alpha Edison saat menemukan listrik. Sementara orang yang pasif tidak pernah salah karena tidak pernah melakukan aktivitas apa-apa.

Kreativitas dakwah adalah keniscayaan. Karena mengajak orang lain memerlukan daya tarik. Apalagi mengajak kepada kebaikan. Harus ada daya tarik ganda. Tidak hanya kontennya dikemas dengan baik namun pembawa konten harus bisa diterima oleh obyek dakwah. Konten kreativitas dakwah seperti apa yang efektif? Kreativitas dakwah yang dapat merespon dengan tepat terhadap kebutuhan obyek dakwah. 

Di titik inilah pentingnya riset dakwah sebelum dakwah dilakukan. Riset dakwah yang sederhana meliputi: indentifikasi kebutuhan jamaah, profil jamaah, opsi-opsi solusi bagi masalah jamaah, narasumber yang sesuai dengan kebutuhan jamaah, kurikulum atau konten dakwah yang diperlukan jamaah. 

Cara sederhana melakukan riset dakwah adalah dengan mengadakan musyawarah pengurus DKM dengan perwakilan jamaah atau dalam bahasa risetnya menyelenggarakan FGD (Forum Group Discussion). Dalam FGD peserta bebas menyampaikan berbagai ide yang kemudian ide-ide tersebut disarikan menjadi program yang bisa diaplikasikan. 

Apa dampak aktivitas program tanpa riset dakwah? Yang paling mungkin terjadi adalah bias dan subyektifitas kebutuhan  yang berbeda antara para pengurus DKM dan mayoritas jamaah masjid. Dampaknya relevansi masalah jamaah tidak terakomodasi dalam program DKM. Akhirnya program-program DKM menjadi tidak efektif dan efisien bagi jamaah secara umum.

Salah satu ciri perilaku kreatif yang dominan dalam psikologi adalah sikap obyektif dan tidak anti kritik. Orang kreatif cenderung sangat mencintai dan bersemangat dengan apa yang mereka tekuni. Kendati sangat bersemangat, mereka tetap mau mendengarkan masukan jika ada hal yang perlu diperbaiki. 

Orang kreatif biasanya objektif, kritis, tapi tetap bisa menerima kritik. Mereka bisa memisahkan ego dan kebutuhan peningkatan kapasitas diri. Poin pentingnya adalah DKM yang kreatif diantaranya memiliki passion (keasyikan) mengurus masjid dalam segala aspeknya, berpikir kritis untuk pengembangan masjid plus terbuka dengan masukan jamaah. 

Ada pepatah bagus yang menyatakan bahwa kerendahan hati adalah kunci membuka semua kebaikan. Ini sangat menarik dan relevan karena sejatinya para pengurus DKM tugas utama dan mulianya adalah melayani jamaah yang memakmurkan masjid bukan memakmurkan masjid lalu minta dilayani jamaah. 

Masih terjadi di beberapa masjid, para pengurus DKM nya berperilaku seperti bos di perusahaan yang hanya mengandalkan kepada para marbot yang dianggap sebagai pegawainya dalam eksekusi program-program di masjid. Ruh pelayanan berkhidmat kepada rumah Allah dan para tamuNya menjadi tidak terasa dari pengurus DKM nya.

Kreativitas Itu kuncinya Bermanfaat

Ujung dari kreativitas adalah manfaat. Dakwah di masjid bisa disebut kreatif bila manfaatnya dirasakan betul oleh jamaah dan lingkungan sekitar. Syarat bisa manfaat harus bersesuaian dengan kebutuhan. Harus menjadi solusi bagi jamaah. Demikian juga program dakwah di masjid. Soalnya kemudian adalah kebutuhan jamaah di masjid tidak statis bahkan terus berkembang. 

Maka mau tidak mau program-program dakwah di masjid harus terus disesuaikan dan diperbaiki tiada henti seiring kemajuan kualitas jamaah dan dukungan teknologi yang berkembang. Mulai dari aspek kebersihan  keamanan, kenyamanan fasilitas masjid sampai dengan  kebutuhan jamaah terhadap aspek kesehatan, ekonomi, sosial budaya.

Kurikulum taklim sudah selayaknya dipersiapkan secara sistematis dengan nara sumber para ustadz/ustadzah yang selalu meningkat kualitasnya plus tak kalah penting perhatian terhadap kesejahteraan yang terbaik untuk para ustadz dan marbotnya. Para DKM yang terus melakukan continuous improvement insyaAllah akan masuk golongan orang terbaik seperti yang disebut dalam hadist Nabi: choirunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia).

“Selamat Milad FMMB ke- 15 Terus berkhidmat menebar manfaat Berharap rahmad dari As Shomad Allahu A’lam bisshowab”.(BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA