MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Tangerang, Ada fenomena “Aneh” dalam 2 hari ini. Yaitu mendadak boomingnya cuitan, video dan apapun unggahan dari Tirta sang INFLUENCER di media sosial. Maaf, saya menyebutnya “Tirta” saja, sebab saat ini yang saya kritisi adalah posisi/ eksistensi dia sebagai influencer, yang ikut dikumpulkan pemerintah kapan hari itu. Bukan Tirta dalam profesinya sebagai dokter.
Bagi saya, agak aneh saja kalau mendadak dalam 2 hari ini tiba – tiba everything comes from Tirta, langsung diviralkan netizen. Padahal, ketika tampil di ILC Selasa (24/03/2020) malam lalu atau 5 hari yang lalu Tirta masih jelas dimana “posisi” dia. Tirta bahkan secara sinis menyindir Haris Azhar yang juga hadir di ILC dan berbicara sebelum dia.
Tirta saat itu menyalahkan orang – orang yang mengatakan bahwa jika terjadi Lockdown maka Pemerintah harus bertanggung – jawab atas pemenuhan kebutuhan pokok warganya. Padahal, Haris Azhar tadinya membicarakan soal itu. Dan memang tidak salah, sebab Undang – undang kekarantinaan wilayah menyebutkan begitu.
Sebelum hadir di ILC, Tirta juga jadi narsum di Kabar Petang TV One. Sebelum ikut-ikutan memviralkan, mungkin ada baiknya kita TAHU dulu siapa dia dan latar belakangnya. Aslinya dia memang “Cebong”, sebutan untuk pendukung Pak Jokowi. Dia memang influencer. Itu sebabnya ketika Pemerintah di awal merebaknya virus corona masuk Indonesia memutuskan untuk mengundang dan mengumpulkan sejumlah influencer, Tirta termasuk di dalamnya.
Ada enggak influencer yang selama ini KRITIS pada Pemerintah diundang dan diajak serta ?! (gak ada !). Nah, sampai di acara ILC saja, sikap Tirta masih jelas : MEMBELA Pak Jokowi, Pemerintah gak boleh disalahkan. Kalaupun dia menyalahkan jubir yang pernyataannya blunder, itu sih wajar saja, sebab pak jubir memang berpotensi bikin kinerja pemerintah jadi sorotan. Nah, coba ya, saya sarikan opini saya:
4. Dalam video yang dirilisnya itu, ada yang “aneh” ! Tirta menyerukan “Karantina Wilayah” selama 5 (LIMA) hari saja !. Ya, dia menggunakan terminologi karantina wilayah, seperti Mahfud MD, Fadjrul Rachman, dan orang-orang Pemerintah. Sementara sejawatnya para dokter lebih memilih kata “LOCK DOWN” yang lebih tegas. Pemilihan diksi kadang bisa menunjukkan seseorang posisinya dimana.
Saya mungkin gak mudah gampang percaya pada sesuatu yang mendadak viral, roo good to be true. Padahal di ILC saja, masih jelas dia “membela” siapa, sampai nge-gas ngatain yang menyalahkan Pemerintah. (BTL)
Tidak ada komentar