Seandainya Mar’ie Muhammad Masih Ada

waktu baca 5 menit
Jumat, 3 Mar 2023 21:41 322 Redaksi

Oleh: Tjahja Gunawan (Penulis Wartawan Senior) MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kota Tangerang Selatan, Buntut kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka Mario Dandy Satrio kepada David kini semakin melebar. Setelah Rafael Alun Trisambodo, ayahnya Mario Dandy Satrio, dikuliti asal-usul harta kekayaannya, kini pejabat di Kementerian Keuangan lainnya ikut menjadi sorotan publik._________Baca Juga : Seandainya Kamu Hidup di Zaman Rasulullah SAW, Masuk Golongan Manakah? | mm

Di tengah ramainya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup yang ditunjukkan sebagian pejabat-pejabat di lingkungan Kemenkeu, tiba-tiba saya teringat Mar’ie Muhammad atau biasa dipanggil Mr Clean. Di lingkungan kerabat dan teman-teman dekatnya, beliau sering juga dipanggil MM atau Ust Mar’ie.

Sewaktu masih bekerja sebagai wartawan di lapangan, saya cukup intens meliput kegiatan Pak Mar’ie sejak dia menjadi Dirjen Pajak hingga Menkeu selama periode 1993-1998. Waktu itu saya memang ditugaskan meliput di lingkungan Bank Indonesia dan Depkeu.

Di sela kesibukannya sebagai pejabat di birokrasi, kegiatan Pak Mar’ie yang saya ketahui adalah jogging di Gelora Bung Karno (GBK). Sehingga tidak heran kalau berjalan kaki Pak Mar’ie sangat cepat sekali. Para wartawan yang biasa menunggu untuk wawancara doorstop, sering dibuat kewalahan mengikuti langkah MM saat hendak meninggalkan sebuah acara.

Seingat saya, Pak Mar’ie tidak memiliki hobi lain kecuali jogging. Dia tidak memiliki hobi olahraga mewah seperti main golf apalagi naik motor gede seperti para pejabat di lingkungan Ditjen Pajak era sekarang. Mar’ie Muhammad memang seorang birokrat yang kuat dalam prinsip, pejuang pemberantasan korupsi, dan pekerja kemanusiaan yang tak kenal lelah.

Diskusi Buku

Pak Mar’ie meninggal dunia pada bulan Desember 2016 pada usia 77 tahun. Beberapa tahun lalu, saya sempat diundang diskusi dengan keluarga Pak Mar’ie untuk membuat buku biografi. Di situ hadir juga beberapa mantan anak buah Pak Mar’ie di Depkeu. Namun karena pertimbangan lain, buku tersebut waktu itu akan dikerjakan secara terbatas oleh pihak keluarga.

Yang jelas, selama saya bertugas meliput di Kantor Depkeu Jl Lapangan Banteng, saya pernah ikut bersama Pak Mar’ie ke sejumlah daerah. Di antaranya ke daerah konflik di Sambas Kalimantan. Waktu itu ada Perang suku Dayak dengan orang-orang Madura di sana, Pak Mar’ie selaku aktivis kemanusiaan justru datang ke daerah konflik. Demikian pula ketika terjadi konflik menjelang Timor Leste lepas dari Negara Indonesia tahun 1999, Pak Mar’ie sengaja datang ke Atambua melalui jalur darat dari Kupang. 

Atambua adalah daerah perbatasan NTT-Timor Leste, waktu itu dijadikan tempat pengungsian bagi warga Timor yang ingin tetap bergabung dengan Indonesia. Bagi saya, kedua perjalanan tersebut betul-betul melelahkan dan menegangkan karena bukan hanya cape fisik tetapi nyawa menjadi taruhan. Ketika berdiskusi dengan keluarga MM, banyak cerita dan testimoni dari pihak keluarga maupun bekas anak buah Pak Mar’ie di Depkeu.

“Sewaktu beliau menteri, ketika itu kan otomatis  secara official Menkeu menjadi komisaris BUMN. Sebab di era Orba, BUMN berada dibawah Depkeu krenanya waktu itu ada Dirjen BUMN. Nah, komisaris dan direksi BUMN kan biasanya dapat tantiem kalau perusahaanya untung. Seperti misalnya Pertamina. Prinsip Pak Mar’ie, hanya mau menerima uang dari gaji resmi sebagai Menkeu. Di luar itu, beliau tidak mau menerimanya. Padahal waktu itu menerima tantiem tidak menyalahi aturan. Jadi tantiem yang menjadi hak Pak Mar’ie sebagai Menkeu dari Pertamina, tidak pernah dia mau terima,” kata seorang mantan anak buah Pak Mar’ie.

Itu satu cerita Pak Mar’ie di dunia birokrasi. Setelah pensiun pun, dia tetap berpegang kuat pada prinsip yang dipegangnya. Setelah pensiun dari dunia birokrasi, Mar’ie diminta menjadi komisaris di salah satu bank syariah swasta. Ceritanya, bank Syariah tersebut hendak menyalurkan dana CSR. Kemudian ditetapkanlah salah satu penerimanya adalah lembaga pendidikan Islam CH. 

Awalnya, Pak Mar’ie BELUM mengetahui tapi begitu mendapat laporan dari direksi bank Syariah tersebut kalau salah satu penerima CSR tersebut adalah CH, seketika itu pula Pak Mar’ie meminta untuk membatalkan pemberian Dana CSR kepada lembaga pendidikan Islam CH karena istrinya menjadi pengelola di sekolah tersebut. Pak Mar’ie tidak mau ada konflik kepentingan.

Sikap tegas ini juga ditunjukkan kepada teman-temannya. Pak Mar’ie kan aktivis 1966 dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Suatu waktu rekannya Cosmas Batubara hendak bertemu MM di kantornya di Jl Lapangan Banteng. Semula Cosmas menyebut dia akan datang berdua bersama Abdul Gafur karena sama-sama mantan aktivis mahasiswa. Eh tiba-tiba pada waktunya, datang bertiga menemui MM. Satunya lagi seorang pengusaha yang tidak dikenal oleh MM.

“Setelah kejadian tersebut, MM menyatakan kecewa dan marah pada saya,” kata Cosmas Batubara (alm). Sebelum meninggal, saya sempat bertemu Pak Cosmas di rumahnya. Bagi MM, hukumnya “haram” menerima pengusaha di kantornya karena bisa menimbulkan fitnah dan persepsi negatif di masyarakat.

Cerita tidak berhenti disitu. Alih-alih pengusaha yang ikut Cosmas Batubara dan Abdul Gafur itu berharap memiliki hubungan khusus dan mendapatkan “keistimewaan” dari Menkeu, yang terjadi kemudian perusahaan si pengusaha tersebut justru diusut laporan pajaknya oleh pejabat Depkeu.

Demikian pula hubungan MM dengan temannya yang menjadi pengusaha seperti Jusuf Kalla. Meskipun keduanya bersahabat karena sama-sama aktif di HMI, tapi saat MM menjadi pejabat di birokrasi dia bersikap tegas pada JK. “Ingat ya daeng Ucu, jangan sampai ada kewajiban Pajak yang tidak dibayarkan,” kata MM kepada JK pada suatu waktu ketika diundang mampir ke rumahnya JK di Kota Makassar di sela-sela kunjungan MM ke Sulsel.

Dengan adanya kejadian sikap hedon yang ditunjukkan keluarga dan pejabat Ditjen Pajak belakangan ini, sudah waktunya prinsip, etika dan nilai-nilai kehidupan Mar’ie Muhammad disosialisasikan di lingkungan Kemenkeu terutama di lingkungan Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai. Salam Anti Rasuah!. (BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA