Fadila Mohammed Abdullah (28thn), tinggal di kota Nyala. Dia secara rutin datang untuk pemeriksaan dan menerima layanan kesehatan di Rumah Sakit Nyala Teaching karena aksesibilitas dan ketersediaan layanannya. Dampak konflik dan pengabaian terhadap kesehatan ibu dan anak di Darfur Selatan (Driven to oblivion: the toll of conflict and neglect on the health of mothers and children in South Darfur) mengungkapkan bahwa jumlah angka kematian ibu di dua rumah sakit yang didukung oleh MSF di Darfur Selatan antara Januari dan Agustus mencapai lebih dari tujuh persen dari total jumlah kematian ibu di semua fasilitas MSF di seluruh dunia pada tahun 2023. Pemeriksaan anak-anak untuk malnutrisi juga menemukan angka yang jauh melebihi ambang batas keadaan darurat.
Dari jumlah tersebut, 32,5% ditemukan mengalami malnutrisi akut, jauh di atas ambang batas keadaan darurat yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 15%. Selain itu, 8,1% dari anak-anak yang diperiksa mengalami malnutrisi akut yang berat.
Nyala, ibu kota Darfur Selatan, sebelumnya adalah pusat organisasi kemanusiaan sebelum perang, tetapi sebagian besar organisasi belum kembali. PBB masih belum memiliki staf internasional di kota ini, di mana MSF menjadi satu-satunya organisasi internasional yang ada. Antara Januari dan Agustus, tim MSF di Darfur Selatan telah memberikan 12.600 konsultasi sebelum dan sesudah kelahiran serta membantu 4.330 persalinan normal dan persalinan dengan komplikasi.
Di seluruh Sudan, krisis yang saling terkait semakin memperburuk penderitaan yang luar biasa, dengan sedikit bantuan yang tersedia, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Burkhardt, yang bekerja di Darfur Utara sebelum penugasannya di Darfur Selatan.
Baca Juga : Perang Manusia, MSF Ungkap Jumlah angka Korban Kekerasan di Sudan
“Perbedaan yang mencolok antara kebutuhan besar akan layanan kesehatan, makanan, dan layanan dasar dengan tanggapan internasional yang terus-menerus kurang sangat memprihatinkan.
Kami mendesak para donor, PBB, dan organisasi internasional untuk segera meningkatkan pendanaan serta memperluas dan menyuplai program kesehatan ibu dan gizi.” katanya dalam rilisnya yang diterima redaksi MediaBantenCyber.co.id pada Rabu (25/9/2024) sore.
Dirinya juga menjelaskan, Konflik juga menyebabkan krisis kesehatan ibu dan anak akibat pengungsian dan kekerasan yang dialami oleh masyarakat. Kekurangan pasokan semakin parah karena pihak-pihak yang berkonflik, bersama kelompok bersenjata yang berafiliasi, terus memblokir atau membatasi akses terhadap bantuan yang menyelamatkan jiwa.
Menurutnya, Krisis ini berisiko membuat keluarga terjebak dalam siklus malnutrisi, penyakit, dan penurunan kesehatan yang berkepanjangan selama beberapa generasi.
Selain itu, menurut seorang pengasuh pasien menjelaskan bagaimana kematian ibu dan malnutrisi saling berkaitan dalam keluarga mereka.
“Ibu dari bayi kembar itu meninggal karena pendarahan hebat, meninggalkan delapan anak lainnya,” katanya.
“Suami saya dan saya berusaha merawat mereka… kami tidak menghasilkan cukup untuk memberi mereka makan. Sekarang ada 13 orang di rumah. Kami berjuang, hanya makan bubur dan saus dengan sedikit garam, sedikit atau tanpa minyak, dan daun-daun hijau”. ungkapnya. (Della)
Tidak ada komentar