Kisah Dari Lereng Barat Gunung Merbabu Tahun 1965

oleh -741 views
Kisah dari Lereng Barat Gunung Merbabu Tahun 1965

Oleh: Ahmad Daryoko MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Magelang, Sekedar mengingat situasi sebelum dan sesudah 1965 di desaku lereng barat Gunung Merbabu, yang merupakan wilayah Nahdliyin (NU). Di setiap desa/dukuh ada seorang Kyai (kami sebut Mbah Kyai) yang merupakan Imam Masjid, guru ngaji, tokoh masyarakat, sekaligus orang yang dituakan. Gerak langkah masyarakat sangat ditentukan fatwa Mbah Kyai ini. Dan yang dianggap sebagai Kyai sepuh untuk masyarakat satu Kabupaten (bahkan lebih) adalah Pimpinan Pondok Pesantren setempat (dalam hal ini pesantren Tegalrejo – Magelang), yang saat itu bernama Mbah Kyai Khludhory.

Saat itu kami rasakan didikan yang keras dari Fatwa para Kyai Sepuh di wilayahku.

_________________Khawatir Dengan Para Pendukungnya Yang Terus Datang ke Lapas Gunung Sindur, Habib Bahar bin Smith Dipindahkan ke Nusakambangan

“Boro-boro” masuk gereja/pura dan seterusnya (apapun alasannya) seperti dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Kyai NU saat ini. Badminton/Bulu tangkis saja saat itu diharamkan ! Bahkan saat tetangga desa “mantu” dengan menanggap wayang kulit, tanaman tembakaunya dirusak oleh masyarakat.

Itu semua menggambarkan betapa kultur Islam yang ketat yang disampaikan melalui Fatwa para Kyai sepuh itu.

___________ Gunung Tangkuban Parahu

Saat itu memang sudah terjadi “perang dingin” antara kalangan NU dan PKI. Dan tradisi wayangan dianggap kultur PKI dengan Ormas dibawahnya bernama LEKRA.

Saat itu PKI melancarkan ancaman ke para Kyai Pimpinan Pondok Pesantren yang tanahnya luas, yang tidak mau tunduk kepada UU Landreform tahun 1960 (untuk memberikan tanahnya ke petani miskin). Mereka diancam untuk disembelih dan dimasukkan sumur. Para Kyai tersebut disebut “Setan Desa” oleh PKI.

Baca Juga : Masyarakat Menolak Keras Aktivitas Galian Di Sekitar Gunung Lempuyang Kabupaten Serang

Persaingan antara NU dan PKI juga diwujudkan dengan “show of force” karnaval drum band di jalan raya utama kota Magelang, antara drum band GP Ansor (ikut juga drum band IPPNU) dan drum band Pemuda Rakyat (PR). Dua – duanya dengan menyertakan barisan pendukungnya yang panjang. Drum band GP Ansor disertai irama “Sholawat Badar” yang dibikin irama mars, Garuda Panca Sila dan lain-lain.  Sedang drum band PR dengan lagu-lagu  “Genjer-genjer” dan seterusnya. Yel yel dua barisan inipun sudah mengarah permusuhan.

_________________Masyarakat Menolak Keras Aktivitas Galian Di Sekitar Gunung Lempuyang Kabupaten Serang

Dan terjadilah peristiwa G 30 S/PKI. Dimana saat awal sampai akhir Oktober 1965 pihak PKI justru yang menyerang. Dan kami yang masih SD dibuat ketakutan adanya teriakan kakak-kakak kami dari GP Ansor dan Banser hampir tiap malam, siap siap siap ! Sebagai tanda bahwa ada rombongan PKI menyerang. Dan barulah saat datang RPKAD pada akhir Oktober 1965 suasana berbalik, Kok “gesture” nya berbeda ya antara dulu dan sekarang ? Adakah usaha memecah belah Islam ? Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun. (btl)

Penulis adalah koordinator INVEST