Makodim Pacitan Penjaga Marwah Literasi: Mencoba Tidak Hanyut

waktu baca 2 menit
Minggu, 24 Agu 2025 17:29 416 Redaksi

MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Pacitan-Jatim, Setelah riuh rendah  acara peluncuran susur pantai ekspedisi merah putih dan semacam launching tagline baru Pacitan, tiba waktunya masyarakat merenung. Salah satu fungsi dan manfaat permenungan itu untuk pengendalian diri dan kebijakan atau kematangan jiwa serta spiritual.

“Mestinya kalau salah kemudian ditunjukkan yang benar itu tidak usah diengkeli, ya inilah ciri khas orang kita nek salah dibenerno malah nesu, kadang karo misuh-misah,” demikian tulis warga Masyarakat Pacitan, Muzazin SH, seorang lawyer handal yang kini berdomisili di seputaran Surabaya. Itu mengomentari tagline dan semacam usulan koreksi di masyarakat.

Ketauladanan yang teduh, dicontohkan Makodim (Markas Komando Distrik Militer)  Dhirotsaha Jaya 0801 Pacitan melalui spanduk atau banner yang terpasang megah di markas: Sekali Berbuat Lebih Baik Daripada Seribu Kali Berucap. Dibawah tagline Pacitan, “*70-Miles of Sea Paradise*” di sebelahnya terpampang gagah Dandim Pacitan, Letkol ARH Imam Musahirul, SH; MIP.

Terkait Grammar, tradisi literasi dan pentingnya kesadaran literat, Sofyan Munawwar Asgart, SS alumni UGM penggiat Literasi di Ruang Baca Komunitas Banjar yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia literasi, menjelaskan tentang betapa lemah posisi kita. Sering dijumpai anak usia Sekolah Menengah yang kemampuan Calistung Dasarnya saja memprihatinkan. Mereka lebih banyak kecanduan game.

“Itu tidak lepas dari arus global 10 tahun ini, tapi saat ini sudah ada arus balik bahkan dimulai dari negara negara skandinavia: Swedia. Norwegia, termasuk juga Inggris mengembalikan lagi baca-tulis secara konvensional di sekolah. Sejumlah hasil penelitian neurologis menyebutkan baca-tulis secara konvensional justru lebih menguatkan daya ingat …”, tulisnya kepada awak media.

Baca Juga : PPDB SDN Cipondoh Makmur “NYELENEH”, Rumah Depan Sekolah Siswa Tidak Diterima | makodim

Dalam kesempatan lain, Sofyan menjelaskan tentang hubungan antara literasi, aksara dan kemajuan peradaban yang saling berkorelasi.

Diperkuat oleh kolega Sofyan, pemilik akun WA Begawan RohsoJati yang menegaskan, “Mengambil ibrah orang dan Bahasa Inggris yang sangat cermat dan presisi, bahkan 1 huruf saja sangat memengaruhi suatu kata atau kalimat. Itulah sebabnya, huruf “s” menjadi sangat penting untuk menunjukkan suatu subyek, karakter kata kerjanya tunggal atau jamak. Dari ketelitian dan kecermatan ini kemudian membentuk karakter masyarakat dan Bangsa Inggris yang cerdas sehingga mampu menjadi salah satu pemimpin peradaban selama beberapa abad mutakhir”.

Untung ada makodim, agar tidak terhanyut, 86 ndan. Siyuap, leksanaken. (Heri)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA