, , ,

Nasihat Ibu Sufyan Ats-Tsauri

oleh -10.139 views
Nasihat Ibu Sufyan Ats-Tsauri

MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Banten, Imam Ibnul Jauzi (Shifatus Shafwah, 2000: 2/110) mencatat sebuah riwayat dari Imam Waki’ tentang nasihat Ibu Imam Sufyan Ats-Tsauri. Imam Waki’ berkata: Ibu Sufyan berkata kepada Sufyan, “Hai anakku, carilah ilmu, dan akan aku cukupi bekalmu dengan upah memintal benang.”

Ia berkata lagi, “Hai anakku, jika kau menulis sepuluh huruf, maka perhatikan dirimu; apakah setelah itu kau melihat peningkatan pada langkahmu, dalam kemurahan hatimu, dan dalam martabatmu. Jika kau lihat tidak ada peningkatan, maka ketahuilah sesungguhnya ilmu itu tidak akan membahayakanmu juga tidak memberimu manfaat.”

Ibu begitu luar biasa. Ia berbahagia dengan kebahagiaan anaknya, dan bersedih dengan kesedihan anaknya. Salah satu sosok ibu yang luar biasa dalam sejarah Islam adalah ibunda Imam Sufyan Ast-Tsauri. Dengan dukungan dan arahan darinya, Imam Ats-Tsauri menjadi ulama yang alim, berbudi pekerti, zuhu, dan multi disiplin ilmu.

Atas nasihat itu pula, kita mengenal kata-kata mutiara sang imam:

”Hidupnya ilmu adalah disebabkan bertanya (mengkaji/meneliti) dan beramal dengannya. Sedang kematiannya adalah meninggalkan keduanya.”

Hakikat dari menuntut ilmu khususnya ilmu agama adalah bukan hanya untuk menambah pengetahuan agar tahu semata, melainkan juga mengamalkannya. Seperti pengetahuan seseorang tentang berbicara, sedekah, dan lain sebagainya.

Yang menarik dari nasihat Ibu sang imam adalah, ia meminta agar Imam Ats-Tsauri melihat ke dalam dirinya (muhasabah) pada suatu periode tertentu. Periode itu bukanlah khatam membaca satu kitab atau selesai menulis satu tulisan, tetapi setiap sepuluh huruf yang ia tulis. Dari standar ini, kita dapati pelajaran penting: kecepatan dan istiqamah dalam muhasabah.

Sang ibu ingin putranya agar terus mengukur dirinya, apakah ada kemajuan dalam proses belajarnya. Kemajuan itu menekankan pada 3 (tiga) hal : 

  1. Bertambahnya pengetahuan.
  2. Bertambah dalam kemurahan hati.
  3. Bertambah dalam martabat diri. 

Jika tidak ada kemajuan dalam ketiga hal tersebut, sang ibu mengatakan, “Sesungguhnya ilmu yang kau pelajari tidak akan membahayakanmu, juga tidak memberimu manfaat”.

Demikianlah nasihat seorang ibu yang hatinya diterangi oleh cahaya nur Sang Pengasih. Ia membimbing sang anak melalui jerih payahnya sebagai pemintal benang, agar menjadi seorang alim dengan ilmu yang hakiki; wasilah ke jannah-Nya, bukan ilmu yang membuat tinggi diri. Sudahkah berdoa untuk ibu hari ini?.(BTL)

Oleh: Ustad Iwan Setiawan, Lc. Penulis adalah Biro Kepatuhan Syariah IZI Banten.