MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Pandeglang, Keberadaan fasilitas kebersihan di berbagai sektor menjadi fokus utama pada era New Normal sekarang ini. Tak terkecuali pada tempat-tempat wisata yang mulai dibuka, kelayakan toilet dan alat-alat kebersihan di dalamnya dijadikan pertimbangan utama dalam melakukan kunjungan wisata. Desa Tanjungjaya, Pandeglang, Banten, merupakan salah satu Desa wisata pesisir yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Banten.
Pengembangan dilakukan dengan membangun fasilitas penginapan untuk para wisatawan di sekitar lokasi pantai. Warga lokal pun turut berinisiatif dalam menjadikan hunian mereka sebagai homestay-homestay sederhana. Namun sayangnya, beberapa fasilitas penginapan tersebut belum menyediakan toilet yang memenuhi standar protokol kesehatan untuk menghadapi era New Normal ini.
Selain itu, tak jarang juga banyak anggapan bahwa ruangan toilet dan kamar mandi hanya sekadar untuk mandi, cuci, dan kakus. Padahal jika memerhatikan unsur estetika di dalamnya, toilet dan kamar mandi bisa menjadi ruangan yang memberikan kesan positif bagi penggunanya. Dari permasalahan tersebut, Ega Ayusila Intani, mahasiswi KKN-PPM (Daring) Tanjungjaya 2020 jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat suatu rancangan fasilitas kebersihan berupa saran pengembangan desain interior toilet. Desain tersebut nantinya akan diserahkan kepada pihak Desa Tanjungjaya sebagai panduan untuk merencanakan kembali fasilitas kebersihan yang ada di Desa wisata mereka.

Desain Pengembangan Fasilitas Kebersihan Menurut Ega, keberadaan ruangan toilet atau kamar mandi itu penting sekali dimiliki setiap tempat wisata. Pastinya dengan alat-alat kebersihannya yang memadai dan bersih agar pengunjung nyaman memakainya. Selain itu, kalau bisa ruang tersebut juga unik agar lebih menarik wisatawan. Dan terinspirasi dari desain-desain toilet modern yang ada di luar negeri, Ega mendesain konsep ruangan toilet yang sekiranya bisa dikembangkan di Desa Tanjungjaya.
Salah satu desain yang Ia buat adalah memadukan antara konsep modern dan tradisional. Material bambu dipilihnya untuk menunjukkan ikon tanaman lokal Provinsi Banten. Selain itu, bambu merupakan material alami sehingga membuat sirkuasi udara lebih baik. Dinding toilet yang dirinya rancang menggunakan material beton di setengah bagian dan material bambu di sebagian lainnya. Toilet ini punya suasana tradisional, namun fasilitas di dalamnya dibuat standar dan lebih modern. Pemilihan warna dan bentuk juga dirinya perhatikan supaya enak dipandang,” ujarnya. Pandemi Covid-19 memang telah membatasi kegiatan sosial masyarakat seperti yang sedang kita rasakan saat ini.
Beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) pun dilakukan secara daring. Menurut Ega, meskipun secara daring peran mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat harus tetap berjalan. Salah satunya dalam pengembangan desa wisata. Ega berharap, desainnya bisa menginspirasi masyarakat, syukur-syukur bisa diterapkan khususnya pada homestay-homestay di Desa Tanjungjaya dan sekitarnya. Selain itu, desain dengan perpaduan bahan beton dan material lokal seperti bambu semoga bisa sebagai media promosi wisata dan meningkat kunjungan wisatawan lokal maupun luar negeri di Desa Tanjungjaya. (BTL)
Tidak ada komentar