Ustadz Abdul Somad: Diperlukan Lima Strategi Untuk Berdakwah di Era Digital
waktu baca 5 menit
Selasa, 9 Feb 2021 23:07 429 Redaksi
MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kota Tangerang Selatan, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengingatkan kepada umat Islam untuk berhati-hati terhadap kemajuan teknologi saat ini yang banyak mendatangkan manfaat, akan tetapi juga ada mudaratnya. Hal tersebut disampaikan UAS saat memberikan tausiyah yang mengambil tema “Tantangan dan Strategi Dakwah di Era Milenial” yang diselenggarakan oleh masjid Al Aqsha Delatinos BSD pada hari Senin (08/02/2021) siang, dalam rangka mengisi kegiatan Tabligh Akbar.
“Kemajuan teknologi ini, seperti pisau bermata dua. Ada pisau yang bila dipotong kan sangat bermanfaat, tetapi bila menggunakannya tidak pas, tidak efisien, maka dia bisa memotong urat nadi, tenggorokan dan juga kita bisa mati. Umat ini bisa mati kalau tidak cerdas dalam menggunakan alat komunikasi,” kata Ustadz Abdul Somad.
Lanjut UAS, ada 5 poin tentang bagaimana menyikapi kemajuan teknologi saat ini, yang Pertama adalah manajemen waktu. “Bahwa tantangannya adalah, kita hampir tidak punya waktu untuk diri kita sendiri. Dari bangun tidur, orang buka mata dia liat handphone, sampai mau tidur yang terakhir yang dia lihat pun handphone. Strateginya, kita harus punya manajemen waktu yang tepat, gunakan handphone secara cerdas,” tandas Ustadz Abdul Somad.
“Coba hitung sehari berapa kali kita membuka handphone dan berapa kali kita membuka Al Qur’an, berapa lama kita melihat layar HP dan berpa lama kita bershalawat. Jadi waktu kita saat ini lebih banyak dihabiskan oleh media sosial, televisi dan lainnya,” ujarnya.
UAS mengingatkan bahwa jika kita menghabiskan waktu hanya banyak untuk medsos maka tidak ada lagi kesempatan kita untuk beramal soleh. Strategi yang kedua adalah maksimalkan dan manfaat media yang ada. UAS menjelaskan bagaimana sekarang ini tidak ada lagi sekat batas dan ruang serta waktu. Manusia semua saat ini seolah berada dalam kampung yang kecil, orang bisa saling kenal dengan yang berada di Amerika, dan dari negara manapun dibelahan dunia lain yang dulunya sangat jauh, akan tetapi saat ini dunia itu terasa sangat kecil karena manusia dapat mengakses berita dari manapun datangnya.
“Maka strateginya adalah bagaimana memanfaatkan tontonan menjadi tuntunan,” terang Ustadz Abdul Somad.
UAS menjelaskan, betapa sekarang ini para Ustadz dan ulama-ulama baik lokal maupun internasional bisa di akses dengan mudah, karena rata-rata sekarang ini para ulama punya program-program dakwah streaming, kajian dan lainnya sesuai dengan sub bidang keilmuan masing-masing. Bahkan terjemahan-terjemahan kitab sekarang sudah banyak dan mudah di dapat. Ketiga, buat grup-grup jamaah untuk komunitas.
“Dahulu Nabi duduk dikelilingi oleh para sahabat. Dia dengar suaranya, dia lihat mukanya, nampak raut wajahnya berubah, terlihat air matanya, tetapi sekarang kita tidak ketemu langsung, tapi melihat layar saja,” ungkap UAS.
Ustadz Abdul Somad melanjutkan bahwa, bertemu langsung itu sangat berbeda dengan melihat layar. Maka siasatnya adalah, silahkan buat grup-grup medsos, berjamaah di grup WA, grup FB dan lainnya. “Saya tidak mau mengatakan jangan ikutan grup WA, tinggalkan grup-grup WA, tidak,” kata UAS.
Da’i kondang dari Sabang hingga Merauke tersebut kemudian menganjurkan, boleh ada grup-grup jamaah, grup sekampung, grup kampus, alumni sekolah dan lainnya, menurut UAS itu adalah bagus. “Termasuk grup kita petang ini, yaitu grup jamaah Al Aqsha Delatinos BSD, kita bertemu di grup yang orangnya insya Allah baik-baik, orang-orang soleh, Insya Allah,“ katanya.
Namun menurut UAS, harus direnungkan bahwa grup-grup tersebut akan membawa kita kemana. Kalau grup itu akan merubah kepada kebaikan maka lanjutkan. Akan tetapi jika keberadaan group nya hanya akan menambah dosa, “ … maka ingat sesungguhnya ketika kita mati menghadap Allah, tidak ada yang kita bawa, tidak akan ada yang akan menolong kita kecuali amal-amal kita,” tegas Ustadz Abdul Somad mengingatkan.
Selanjutnya Ustadz Abdul Somad menyerukan kepada para jamaah bahwa, untuk mengajak pada kebaikan itu tidak harus menjadi seorang Ustadz dan Kiai. Mengajak orang ke masjid, menganjurkan pakai jilbab tidak mesti jadi Profesor, doktor, SAg, Lc, MA, siapapun bisa. “Tapi kalau bicara soal halal-haram, rukun, fatwa, syarat, hukum, wajib, sunat memang mesti orang yang berilmu agama,” jelas UAS.
Tapi kalau untuk mengajak maka itu adalah kewajiban semua orang. Sekarang mengajak orang pada kebaikan itu dapat melalui akun-akun medsos seperti WA, Ig, FB, YouTube dan lainnya. Dan strategi yang ke-4 itu adalah menggunakan teknologi sebagai sarana dakwah. Dan ajakan pada kebaikan itu bisa melalui apa saja. “Jadikanlah teknologi itu sebagai sarana, bukan ia sebagai tujuan,” tegas UAS.
Dan yang terakhir adalah untuk berdakwah di era melineal itu perlu selalu menambah pengetahuan, harus memilki pengetahuan yang cukup. Bila tidak, maka akan mudah terkena tipu daya. UAS kembali mengingatkan ada orang tua zaman sekarang yang ditipu oleh anaknya sendiri karena tidak paham dengan teknologi.
“Jadi orang tua juga harus mengerti teknologi. Berapa banyak orang tua saat ini yang tidak paham teknologi akhirnya HP nya digunakan anaknya untuk judi online, belanja online dan lain sebagainya. Tiba-tiba tagihan melambung tinggi,” ungkap Ustadz Abdul Somad melanjutkan.
Sekarang setiap rumah dipasang Wi-Fi, akses internet terbuka. Kalau orang tua tidak mengerti aplikasi untuk memblok akses-akses tertentu, maka semua orang masuk ke dalam rumah melalui internet.
“Dulu orang tua cukup dengan memagari rumahnya, menanya tamu, dari mana, perlu apa, berapa lama, urusan apa dengan anak saya. Sekarang tidak ada tamu yang datang, tapi tamunya sudah masuk langsung kedalam kamar anaknya, dengan gambarnya, video-nya, kontennya dan lain sebagainya,” pungkas Ustadz Abdul Somad mengakhiri tausiyahnya.
Dan dari uraian tausyiah yang disampaikan oleh UAS tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa di zaman teknologi seperti saat ini, sangat diperlukan orang tua yang cerdas dalam menghadapi era mileneal dan generasi milenial nya, dan juga generasi yang berilmu, beriman dan beramal soleh. (Btl)
Tidak ada komentar