CARA DAKWAH DI ERA DIGITAL

waktu baca 5 menit
Kamis, 7 Okt 2021 19:32 494 Redaksi

Oleh: Dr Enhaka, MM (Presidium Forum Masjid Mushola BSD/FMMB)  MediaBantenCyber.co.id – (MBC) Kota Tangerang Selatan, Kewajiban dakwah bagi semua agama sepertinya melekat pada semua pengikutnya. Khususnya bagi seorang muslim dakwah sesuai kemampuannya adalah bagian dari kebaikan amaliah kehidupan di dunia yang mulia. Ballighu anni walau ayah (sampaikan dariku meskipun satu ayat). Hadist Nabi SAW tersebut sering dikutip menjadi referensi tentang adanya kewajiban dakwah bagi setiap muslim. 

Ada yang menafsiri hadist tersebut dengan sederhana. Artinya ya sesuai bunyi teks hadist-nya, berdakwalah sesuai kemampuan, meskipun minimal. Namun ada juga yang menafsirkan lebih luas bahwa maksud hadist tersebut tetap menekankan pada pemahaman yang dalam saat mulai menyampaikan dakwah.  

Rasanya kedua penafsiran tersebut sah sah saja. Yang jadi soal tentu saja konten-konteks dakwah, model dakwah dan juga subyek-obyek dakwah yang realitasnya sangat bervariasi. Dakwah model konvensional seperti saat ini yakni dakwah musti dengan mimbar, mikrofon, ustadz ceramah, jamaah mendengar plus pulangnya pengurus ngasih amplop ke penceramah masih akan terus berlangsung berapa lama lagi kah? Wallahu A’lam. 

Namun fakta hari ini menunjukkan bahwa kita bisa mencari konten dakwah dan pendakwah apa saja dengan sangat mudah di YouTube. Anak-anak muda yang mulai tertarik belajar agama tinggal klik ustadz Hanan Attaki, dai muda anak aceh jebolan Al Azhar, Cairo Mesir. Pakaiannya kasual bukan baju koko, tidak berkopiah putih atau hitam melainkan memakai penutup kepala gaya pendaki gunung. 

Baca Juga : MEMILIH DAKWAH YANG RELEVAN

Yang santri tinggal klik Gus Baha, ulama cerdas didikan KH Maimun Zuber Sarang, Pati Jawa Tengah. Pakaiannya khas santri selalu sarungan  baju putih berkopiah hitam. Kitab klasik, kitab kuning dibahas dengan dalam namun penuh humor sehingga tidak terasa berat dan membosankan. Mulai dari Fathul Muin, Fathul Wahab, Ihya Ulumiddin sampai Al Hikam dikaji dengan sersan, serius santai.

Muslim perkotaan juga tinggal milih konten UAI, Ust Adi Hidayat atau UAS, Ustadz Abdul Somad (UAS), Klik namanya di YouTube akan langsung muncul konten ceramah yang mana yang akan  ditonton. Lagi sedih klik konten mengobati kesedihan. Lagi nyari kerja. Klik youtube doa mudah cari kerja. Bahkan mau ngaji serius juga tersedia. Mau ngaji Ihya Al Ghozali bab 1 tinggal klik saja akan muncul pilihan narsum nya. Bahkan generasi babyboomer yang pengen mendengarkan lagi tausiyah jadul Buya Hamka tersedia banyak di youtube.

Iptek berkembang. Teknologi informasi berkembang dengan cepat bahkan revolosioner. Para ahli menyebut era VUCA (volatile-bergerak terus, uncertainty-tidak menentu, complexity-kompleks, rumit, agility-gesit). Dari makna harfiahnya bisa dipahami makna konteksnya yang luas. 

Baca Juga : Bang Agus Grave Bicara Tentang Dakwah Kepada Anak Jalanan dan Preman di AFA Islamic Learning Center Serpong

Hal ikhwal bergerak dengan cepat, tidak  bisa ditebak arahnya, rumit interaksinya plus harus lincah gerakannya, menuntut kegesitan, fleksibilitas, ketangguhan agar bisa kompetitif. Jaman secara otomatis berubah tak bisa dihentikan. Tak bisa dielakkan. Selalu ada 2 sisi dari perubahan atau kemajuan. Sisi baik dan sisi buruk. 

Bisa membawa manfaat bisa juga menyebabkan mudharat. Tergantung. Kreativitas mengakali kemajuan teknologi informasi menentukan tingkat kemanfaatannya. Bangsa atau negara dengan SDM pasrah, nrimo (lawan SDM kreatif) dapat dipastikan akan menjadi korban dan konsumen laten di era VUCA.

Berubah atau ketinggalan jaman
Di era digital ini kreator konten disediakan berbagai platform dengan mewah dan mudahnya. Mulai dari grup WA, facebook, instagram, twitter, youtube, dll yang diyakini ke depan akan semakin canggih dan userfriendly. Sekedar contoh, jaman dulu penonton TV menunggu acara TV yang disukai, sekarang terbalik acara TV yang menunggu dipilih oleh penontonnya. 

Dulu orang nonton berita dunia harus menunggu acara dunia dalam berita TVRI dengan penyiarnya yang terkenal Toeti Aditama dan Anita Rachman. Atau harus standby jam 7 malam di depan TV karena mau nonton acara Kamis malam pengajian agama Islam Buya Hamka. Itu dulu tahun 60 70, 80-an.  

Saat ini terbalik justru penonton yang memegang kendali: mau nonton konten apa, jam berapa dan di mana. Berbagai jenis konten berjejal-jejal di media sosial menunggu diklik oleh penonton setianya.

Sering aktivis dakwah dan pengurus DKM menyampaikan keluhan mengapa susah sekali mengajak anak-anak muda hadir di taklim atau pengajian di masjid? Tentu saja jawaban yang tepat akan bervariasi karena beda situasi dan kondisi. Yang pasti bisa ditebak menjadi penyebab utama adalah perbedaan persepsi tentang makna cara taklim/belajar antara generasi dulu dan sekarang. 

Era sekarang dengan segala atribut kemajuan teknologi informasi serba digital memang miliknya generasi milenial (Y) lahir 1980 s/d 1995 dan generasi Z lahir 1997 s/d 2000an. Bahasa lainnya di era digital ini mereka (generasi Y dan Z) adalah pribumi digital sedangkan kita (generasi X dan baby boomer) adalah kaum pendatang. 

Mereka ansor kita muhajirin. Kira-kira begitu. Pendakwah yang kurang menyadari perubahan ini akan gagap seperti pengalaman kita generasi baby boomer menggunakan smartphone dan medsos…kenapa anak-anak kita cepat sekali bisa..sedangkan kita lama sekali ngeh nya.

Jaman berubah, mau tidak mau dakwah harus terus berjalan dalam zaman apapun. Pendakwah harus berubah cara berdakwah nya sesuai sabda Rasulullah SAW: “Ajari lah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zaman mu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Allahu A’lam bisshowab.(BTL)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA